Mini Indonesia Dalam Retorika Fu

Yuda(s), si raja taruhan. Dia memiliki banyak koleksi barang unik, yang didapatnya dari hasil menang taruhan. Salah satu yang paling berkesan adalah, sebuah batu endapan sederhana yang bertuliskan secarik kertas, apa yang tak selesai kau mengerti di sini, tak boleh kau tanyakan padaku di luar.” (hal 10)
Batu itu mewakili banyak perubahan dalam hidup Yuda, semenjak mengenal hingga merasakan kehilangan sesosok bernama Parang Jati.

Mahasiswa geologi tingkat akhir ini, bisa membuatnya kalah dalam sebuah taruhan. Pemuda yang juga disebutnya sebagai bermata bidadari, memiliki pesona keluguan, kedalaman bersikap, sekaligus keikhlasan untuk melakoni hidupnya yang tak biasa. Jati mengkampanyekan clean climbing, sebuah ‘agama’ pendakian bersih, tanpa bor, dilakukan dengan menyakiti alam sesedikit mungkin. Yuda dan Jati bertaruh mengenai kematian dan kebangkitan seorang penduduk desa. Kekalahan langka bagi Yuda ini, membawa mereka ke sejumlah petualangan menarik lain di wilayah Watugunung. Petualangan yang mengajari Yuda berpikir ulang jika akan mengajukan taruhan dan keputusan dengan pertimbangannya sendiri.

Kekasih Yuda, Marja, perempuan yang dijuluki kuda teji, mudah iba sekaligus mampu membuat orang menyukainya. Sementara Yuda bercinta diam-diam dengan Sebul, makhluk imajinatif yang dirupakan jakal jantan betina; Marja pun (dibolehkan) berbagi kasih dengan Jati.

Suhubudi, ayah asuh Parangjati, seorang petapa, memiliki istri yang baru disuntingnya saat membesarkan Jati. Lebih mirip posisi sebagai selir. Perempuan, yang selanjutnya dinamakan Dayang Sumbi, adalah penyandang tunawicara atau bisu. Di sebuah ruang khusus dan hari tertentu, mereka tak boleh bicara. Semua hanya boleh berkomunikasi dengan tulisan, demi merasakan sepertinya.

Sebab suara manusia, Nak, telah menjadi begitu artifisial dan congkak. (hal.296)

Rama Suhubudi, menunjuk Jati menjadi kepala Klan Saduki. Sebuah sirkus orang aneh, yang mempekerjakan tiga belas orang dengan keajaibannya masing-masing. ParangJati yang berjari enam (yang disebutnya sebagai jari hu), Dayang Sumbi yang bisu, tuyul bermata terbalik, lelaki berkulit badak, berwajah gajah, dan sebagainya.

Jati memiliki adik, yang diasuh oleh orang tua yang berbeda, namanya Kupukupu. Jati hidup bergelimang harta dan kemudahan, berkebalikan dengan adiknya yang diasuh oleh pasutri yang miskin. Hanya ada satu putra makota, demikian bagi Suhubudi. Meski, dia tetap menyuplai segala kebutuhan Kupukupu. Saat kecil, mereka bersaing perhatian dan kemampuan. Begitu beranjak dewasa, mereka bertikai soal pandangan. Jati mencintai alam dan menghormati segala macam perlakuan masyarakat dalam berinteraksi dengannya. Kupukupu, yang berubah nama menjadi Farisi, mempelajari ilmu agama tauhid (monoteis), menganggap semua jenis interaksi budaya apapun yang menganggap adanya ‘tuhan’ lain, adalah musyrik. Dengan latar belakang dendam di masa lampau, mereka kembali bertikai. Farisi bersama kaum dan kepentingan terselubungnya, melawan Jati yang hanya bersama Yuda dan Marja, beserta naluri kritis mereka.

Yuda masih sedikit kompromi dengan militer, memiliki relasi dengan Karna dan Kumbakarna, dianggapnya sebagai sebagian kecil anomali barak. Jati sangat anti militer. Nyatanya, karena peran serta mereka berdualah, keresahan Jati terbukti, menciptakan ruang yang makin tegang di antara mereka bertiga.

Jati menuliskan mengenai hantu 3M, yaitu Modernisme-Monoteisme-Militerisme, tiga judul besar yang membagi bab dalam novel ini. Modernisme yang membuat banyak wilayah alam kehilangan kuasa dan eksotismenya. Monoteisme yang melarang banyaknya aliran kepercayaan. Militerisme yang menggunakan cara kekerasan untuk menertibkan. Ketiganya (di)berkorelasikan erat dalam merusak keseimbangan alam, memaksakan cara yang baru dalam kehidupan, yang sebenarnya hanya menguntungkan kaum pemilik modal.
Modernisme adalah alat untuk memperalat. Takhayul adalah alat untuk diperalat. (hal 186)

Dengan bersembunyi di balik topeng monoteis, yang melarang sesajen sebagai bentuk interaksi dengan alam, banyak gedung dibangun dan cagar alam dirusak, atas nama modernisme. Jika melanggar, cara kekerasan atau militerisme siap menyangga.
…Kita tahu cara-cara militer dan intelijen: serang, hancurkan, perkosa. Cara-cara militer memang tidak membutuhkan dialog… (hal 81)

Spiritualisme kritis, sebuah jalan untuk tetap beragama tanpa kehilangan nalar kritis. Jati, tokoh yang menanggung beban, digambarkan memiliki nasib seperti Musa dan Siung Wanara, yang dibuang dan dihanyutkan ke sungai oleh orang tuanya, karena diramalkan berpotensi merebut kekuasaan. Mbok Manyar, jurukunci mata air, yang menemukannya, mengangkatnya sebagai anak, kemudian memandatkan kepada Suhubudi untuk diasuh.

Agama samawi dan monoteis, banyak merujuk pada kisah Ibrahim dan Ismail. Ibrahim yang juga menghancurkan berhala kaumnya dan berargumen mengenai tauhid dengan raja Namrud. Suhubudi menyatakan bahwa dia mendapat wangsit untuk membuat Jati hidup mewadat, dengan menjadikannya sebagai kasim. Jati (seperti Ismail), menunjukkan baktinya. Suhubudi hanya mengujinya, dia dikhitan saja. Mengapa tidak ijin kalau mau mengujinya?

Aku adalah ayahmu. Jangan ada ayah selain Aku. Engkau tak bisa membenciKu. (hal. 290)

Dan Jati dengan arif tetap membelanya, ketika Yuda bermaksud menaruh belas kasihan atas nasibnya (di Klan Saduki).

“Jangan kamu kira bapakku melakukan semua ini untuk keuntungan. Jangan kamu kira bapakku tak punya rencana atas semua ini.” (Hal. 211)

Ini menggambarkan Firaun, atau juga kritik atas simbol keesaan Tuhan. Ayu mengemukakan perdebatan antara keesaan yang mengurangi estetika dalam berkomunikasi dengan alam. Well, aplikasi keesaan ini digambarkan secara negatif, meski (hiks) itulah kenyataan. Oknum (dengan pengetahuan setengah), memaksakan keberlangsungan suatu dogma, tanpa mempertimbangkan sisi lain, yang ikut berpengaruh. Dalam sebuah versi, Syech Siti Djenar sengaja dibunuh oleh para wali, karena ajaran tasawufnya (manunggaling kawula gusti) belum mampu diserap oleh masyarakat Jawa saat itu, yang belum sepenuhnya memahami Islam. Artinya, memahami tauhid pun memiliki tingkatan, yang tak bisa dipelajari sendirian. Harus ada guru mumpuni dengan rujukan kitab yang sesuai. Garis besarnya, dalam Islam, hablul minallah (ke Allah) dan hablul minnanas (ke sesama manusia), harus seimbang. Keseimbangan ini bisa dicapai dengan belajar dan menalar. Saya sepakat dalam hal kritisisme, namun ada batas tertentu yang tak sanggup saya langgar.

Baca: Diet Agama (2)

Orang yang berpendapat bahwa Islam tak bisa hidup berdampingan dengan tradisi, adalah orang yang picik. (hal. 315)

Tokoh Farisi/Kupukupu, seperti nama awalnya, dia bermetamorfosis sempurna. Tokoh ini juga mewakili kritik pada monoteisme semu, mengorbankan nilai luhur adat, mengombinasikannya dengan hasrat tak kentara akan kekuasaan. Musyrik, sebuah label pelapis hasrat ketamakan. Sementara masyarakat mulai terbagi keyakinannya, militer ambil peran, membukakan pintu masuk bagi modernisme. Televisi, yang sangat dibenci Yuda, menjadi corong utama penyebaran dogma modernis dan monoteis, antara lain melalui teladan berperilaku konsumtif dan beragama secara sempit dalam berbagai jenis sinetron.

Perpanjangan kritik mengenai militerisme, adalah budaya seksis dan patriarkal, yang menempatkan perempuan sebagai pihak pendosa. Seperti kisah Betari Durga. Kesetiaannya diuji oleh suami yang meninggalkan untuk mengetahui sampai sejauh mana. Kerinduan memuncak, membuatnya rela menyerahkan tubuhnya pada sudra, asalkan bisa bertemu suaminya. Sayang sang resi tak terima, istri dianggap ternoda, sehingga dia dikutuk menjadi raksasa wanita pemakan bangkai. Jangan lupakan kisah Ande Ande Lumut yang hanya menerima Kleting Kuning, meski berbau tai, tapi paling suci dari jamahan lelaki lain. Namun, Sudjiwo Tedjo, berargumen dari sisi lain. Rahwana, selama ini dianggap raksasa penculik Sinta, adalah yang mencintai Sinta apa adanya, menculik tapi tak berani menyentuhnya. Sementara Rama, tak lagi menerima Sinta ketika kembali, menganggapnya tak lagi suci.

Sementara mereka tak mau jika kesucian pasangannya ternoda, mereka juga akan mengejar perempuan (dan kekuasaan) dengan cara apapun, bahkan dengan membunuh. Larajonggrang dan Bandung Bondowoso. Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Dongeng paling purba selalu menyimpan sifat lelaki yang merasa perlu membunuh untuk menaklukkan.

“Dan semua Sangkuriang, Oedipus, Watugunung adalah lelaki. Tak ada perempuan yang membunuh ibunya untuk mendapatkan ayahnya. Menarik, kan?” (hal. 137)

Secara biologis, supremasi dan dominasi perempuan dalam kehidupan, tak dapat dipungkiri. Ikan pelus keramat, yang bisa berubah kelamin. Jantan hanya akan menjadi jantan, namun betina bisa berubah menjadi jantan maupun betina. Nyi Roro Kidul, konon adalah Ki Aji Cemara yang bertapa dan bisa berubah menjadi perempuan, sebuah simbol legitimasi kekuasaan di Jawa.

Saat selesai membacanya, di tahun genap sepuluh tahun reformasi, saya menuliskan bahwa pengetahuan setengah adalah sebuah persimpangan, bisa membuat makin jauh atau malah makin dekat. Sejatinya, seseorang yang tahu banyak akan menoleransi perbedaan, menyampaikan ajaran tanpa paksaan. Kalau dalam Islam, hidayah bukan milik kita, tapi milik Allah.

Di dunia, ada ribuan jenis kepercayaan. Di Indonesia sendiri ada puluhan, hanya 6 yang diakui, itupun pada era Gus Dur. Jadi jika tak ada yang sesuai, mau tak mau harus memilih salah satu di antara 6 itu. Di era internet, seperti yang sudah dibahas Ayu dalam sebuah wawancara, arus informasi mengenai kritisisme dalam beragama memgalir deras. Sayangnya, masyarakat kita melompati budaya baca, sehingga kesenjangan pengetahuan makin lebar. Mereka yang sejatinya kritis, aktif dalam diskusi bahkan dengan referensi fisik yang masih terbatas, mesti bersaing dengan opini asal yang mencuat. Kemudahan berpendapat, tanpa filter, membuat negara makin carut marut.

Baca: Katarsis Nyinyir

Pertentangan antara bilangan hu dan fu, antara 0 dan 1 mana yang lebih agung. Sebuah retorika kritis tentang pilihan kebenaran antara satu atau tak terhingga, mana yang lebih agung. Angka 13 atau hu, digambarkan dengan simbol tak terhingga. Klan Saduki mewakilinya.
Mana yang lebih purba, bilangan berbasis 10 atau berbasis 12? (hal. 275)

Ji-ro-lu-pat-mo-nem-tu-wu-nga-luh-las-sin-hu (hal. 204)

Siji-loro-telu-papat-limo-enem-pitu-wolu-sanga-sepuluh-sewelas-rolas-telulas. Mestinya demikian dalam bahasa Jawa ngoko. Jawa Krama beda lagi. Entah kenapa wolu menjadi wu, songo menjadi nga, 12-13 lain lagi…

Mini Indonesia yang dijabarkan Ayu dalam Bilangan Fu, masih relevan hingga hari ini, hingga genap 20 tahun reformasi. Dwifungsi militer belum bisa sepenuhnya mampu mengembalikan mereka ke barak. Hantu komunisme masih gentayangan, menjadi bintang takhayul yang akan selalu ada dalam pesta politik. Fundamentalisme beragama memakai wajah lain, meski tetap berkelindan dengan modernisme, menawarkan teror surga kebenaran yang semakin ajaib. Budaya baca yang mestinya dikhatamkan sebagai bekal menuju peradaban lebih baik, hanyalah wacana bagi sebagian orang. Kereta perubahan sudah melaju cepat, dengan penyesuaian mental nasional yang masih tertatih-tatih.

Isu disabilitas, perempuan, dan perbedaan aliran kepercayaan; adalah bahasan minoritas yang juga diangkat di sini. Berbeda dengan isu mayor yang perubahannya butuh waktu lama untuk dikendalikan, bahasan minoritas mulai menemui titik terang. Eh, kecuali aliran kepercayaan, yang baru sedikit dimulai Gus Dur yang mengakui agama Konghucu, kemudian mengalami stagnasi bahkan kemunduran, sepeninggal beliau. Sedangkan masalah disabilitas dan perempuan, mulai banyak suara-suara pembelaan, bahkan bukan dari kaum yang bersangkutan. Ayu mewakilkannya melalui pendapa Suhubudi yang harus senyap. Saya sendiri, belajar memahami senyap dan isyarat, karena memiliki anak yang menyandang tuli. Perempuan dan persamaan haknya, yang antara lain diwakili Ayu sendiri, kinipun mampu mengajak kaum lelaki berada di garis depan, memberikan dukungan.

Jalinan yang sangat kompleks dan rumit, tak cukup rasanya diwakilkan di tulisan sini. Tiap bagian dipersiapkan dengan mendetail dan Ayu Utami begitu total merangkai serta menyajikannya dengan apik.

Judul buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG, Jakarta, cetakan pertama Juni 2008
Gambar sampul dan isi: Ayu Utami
Tataletak sampul: Rully Susanto
Tataletak isi: Wendie Artswenda
Tebal: 537 hal

Published by

esthy wika

Saya menulis tentang difabilitas terutama tuli, kisah sekolah dan pengasuhan, dan sesekali mengenai agama politik musik.

4 thoughts on “Mini Indonesia Dalam Retorika Fu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s