Teladan Para Ibunda Salehah

“Kamu ini diciptakan dengan penampilan yang membuatmu tidak cocok bergaul dengan anak muda. Maka jadilah orang yang taat beragama dan berilmu, sebab kedua hal itu akan menyempurnakan semua kekurangan dan menghilangkan semua keburukan.” (hal 152)
Nasehat ibunda dari Muhammad bin ‘Abdurrahman al Makhzumy, seorang hakim. Nasehat ini disampaikannya, demi menyadari bahwa putranya ini (konon) berpostur pendek, berparas amat jelek, lehernya masuk ke dalam, sedangkan kedua pundaknya menonjol seperti batu.

“Wahai putraku, tuntutlah ilmu, dan aku siap membiayaimu dari pintalanku… Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan; Apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan? Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu,” (hal 156-7)
Pesan dari ibunda Sufyan ats Tsauri, seorang amirul mukminin dalam ilmu hadist di jamannya.

Continue reading Teladan Para Ibunda Salehah

Advertisements

Kesunyian Yang Menawan

“Saya harus bisa berbesar hati menerima berbagai macam bahasa, termasuk bahasa isyarat. Saya yakin semua orang tua pasti berharap anaknya yang tuli bisa berbicara, namun akhirnya saya menyadari bahwa kelompok anak tuli adalah kelompok minoritas yang memiliki budaya dan bahasanya sendiri yang selayaknya harus diterima dan dihargai. Saya akhirnya melihat bahwa sebagaimana bahasa lainnya, tak ada bahasa yang statusnya lebih rendah. Semua bahasa adalah sarana untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, ide, pendapat, dan alat untuk berkomunikasi.” (hal. 22)

Efek setelah pilihan total komunikasi diambil keluarganya:

dia lebih ceria, lebih spontan, lebih ekspresif, matanya lebih hidup, dia lebih mampu mengendalikan emosi, lebih bervariasi, …

Marjam Rudijanto, adalah ibu dari Erika. Marjam dulunya adalah seorang dosen psikolog UI, yang melepaskan karirnya, demi mengabdi penuh kepada keluarga, apalagi saat si bungsu Erika, tervonis tunarungu.

Continue reading Kesunyian Yang Menawan

Aku Bisa Dengar, Aku Bisa Bicara

Sekian tahun punya bukunya, baru sekarang saya bisa menuliskan reviewnya dengan merasa ‘baik-baik saja’ ☺

“Mengapa hal ini harus terjadi pada kami? Mengapa kami dikaruniai ‘lotere’ tunarungu pada anak pertama kami?….. Menolak takdir ini pun tidak lantas membuat keadaan berubah menjadi lebih baik. Ketika kami sudah bisa menerima kenyataan, pada titik itulah kami bisa bangkit dan terbuka terhadap lebih banyak kemungkinan untuk Gwen. Gwen memang lahir tuli, tapi itu bukanlah akhir dari segalanya…” (hal.4)

Di usia enam bulan, Gwen belum mengenal suara, tak bereaksi pada panggilan, kejutan, bahkan suara bising sekalipun. San San, ibunya, mulai panik. Bersama John, suaminya, mereka menghubungi dokter kandungan dan tenaga ahli lainnya, menjalani berbagai macam tes; demi mengetahui, kenapaaa?

Continue reading Aku Bisa Dengar, Aku Bisa Bicara

Berkenalan Dengan Hawking

“…Saya menulis makalah sains dengan mendiktekannya kepada sekretaris, dan saya memberi seminar lewat penerjemah yang mengulang kata-kata saya agar lebih jelas. Tapi trakeotomi (pemotongan tenggorokan) menghilangkan kemampuan saya untuk berbicara. Untuk beberapa lama, satu-satunya cara saya berkomunikasi adalah dengan mengeja tiap kata dengan mengangkat alis tiap kali ditunjukkan huruf yang saya maksud. Sukar berkomunikasi dengan cara seperti itu, apalagi menulis makalah sains…” (hal. 114)

Sekian tahun saya mencari siapakah penulis yang berhasil membuat hasil karya, di tengah hambatan sakit dan keterbatasan fisiknya. Ternyata penulis itu adalah Stephen Hawking.

“Ketika saya berumur dua puluh satu dan mulai menderita ALS, saya merasa itu sangat tidak adil. Mengapa harus terjadi kepada saya? Waktu itu, saya merasa hidup saya sudah berakhir dan saya tak bakal mencapai potensi yang saya rasa saya miliki. Tapi sekarang, lima puluh tahun kemudian, saya bisa puas dengan hidup saya…Kendala fisik saya tidak menjadi halangan serius dalam karya sains. Malah dalam beberapa hal keadaan itu saya anggap keberuntungan…” (hal 164-5)

-continue reading

Sedekah Yang Berencana

Sudahkah anda sedekah hari ini?
Ikhlaskah anda dengan barang yang telah anda sedekahkan?
Mengenai keikhlasan kita yang masih belum tergenapkan secara mutlak, silakan baca pertimbangan alasannya di tulisan Ya Allah Mana Balasan Sedekahku. Ada perspektif sedekah lain yang baru bisa saya pahami dari buku ini.

Buku dibuka dengan catatan si penulis utama, bahwa sedekah bisa membeli apapun keinginan kita. Jenis sedekah apa saja, pun asumsi mendasar bahwa 2.5% adalah nominal yang terlalu kecil untuk bersedekah. Keluarga besar Assad saat ini sedang melanjutkan pembangunan Sekolah Hafidz Daarul Qur’an Affan sebagai bentuk sedekah jariyah.

-continue reading

Writerpreneurship: Sebuah ‘Pisau Dapur’

“Kumenulis sepenuh jiwa, menulis dengan detail sehingga orang lain akan menghargai setiap tulisanku tanpa aku memintanya.” (hal 153)

Membaca buku ini sambil memandang tumpukan tulisan yang urung saya perjuangkan untuk terbit. Menurut buku ini, berhenti memperjuangkan tulisan kita sama dengan mengkhianati mimpi sendiri 😯

-continue reading