Benarkah Semua Demi Uang?

…di dunia ini hanya dua orang yang tak dapat kamu tipu. Yang pertama adalah orang yang hatinya lurus. Mereka nggak bisa kamu tipu karena mereka tidak menginginkan apapun di dunia ini, namun orang seperti sangat langka. (hal 225).
Lalu siapakah yang kedua? 😉

Continue reading Benarkah Semua Demi Uang?

Advertisements

Ambisi Yang Menyebalkan

Sabina, atau Sasa, memiliki harapan tinggi terhadap apapun yang dia lakukan. Realitanya, mana ada sih manusia yang benar-benar sesempurna itu, hingga bisa menjadi apapun yang dia inginkan.

Penulis berhasil membuat saya sebal banget dengan tokoh Sasa satu ini.

-continue reading->

Niat Baik Bersama Keluarga

Ini seri ketiga yang kabarnya tak beredar bebas di toko buku. Saya hanya mengikuti share dari teman, tidak memiliki seri pertama dan kedua, jadi tak mengikuti benar seperti apa.

Senengnya, anak saya langsung ndoprok di lantai lalu menekuni halaman demi halaman. Tak hanya itu, di antara sejumlah buku di rumah yang iseng dia bawa ke sekolah, komik Pengen Jadi Baik ini salah satunya. Biasanya, kalau saya sodorkan buku, dia bolak balik sampai habis lalu sudah. Komik ini bolak-balik dibolak-balik 😀

Continue reading Niat Baik Bersama Keluarga

Tidak Semua Laki-laki

Penulis ‘dimusuhi’ oleh sebagian laki-laki, betapa mereka merasa sebagai ‘tertuduh’ dengan adanya buku ini. Namun penulis juga mendapat ucapan terima kasih dari para suami yang merasa jatuh cinta kembali dengan istrinya. Bagi para wanita, mungkin kisah anda ada di dalamnya. Jika memang lebih berat, segeralah mengungkapkan pada orang yang terpercaya. Jika lebih ringan, syukurilah. Jika sama sekali tak mengalami, pahamilah ☺

Benarkah semua pria brengsek? Basofi Sudirman, mantan gubernur Jatim, sudah menyangkalnya lewat lagu,
Tidak semua laki-lakiiii, bersalah padamu. Contohnya akuuuu, masih mencintaimu. Tapi mengapa, engkau masih ragu?”

-continue reading->

#TNTrtw1: Pemerintah Dan Wisata Alam

Percayalah kepuasan itu bukan karena kita bisa jalan-jalan gratis. Kepuasan sesungguhnya adalah bila kita bisa jalan-jalan dengan menggunakan hasil keringat sendiri! (hal 131)

Ini adalah buku kedua Trinity tentang Naked Traveler yang saya baca. Buku paling awal yang berwarna biru itu, saat pertama Trinity mengepakkan sayap di dunia traveling dan seluk beluk komersialisasinya. Saat itu dia masih mbak-mbak kantoran, yang meributkan kenapa hanya ada 12 hari cuti, membandingkan dengan negara-negara di Eropa yang pekerjanya bisa cuti hingga 40 hari dalam setahun.

-continue reading->