The Day I Wanted To Be A Man

Joan, dengan nama panjang Johanna, lahir dari perkawinan Gudrun, ibu berdarah Saxon yang pagan, dengan kanon (pendeta) desa. Kakaknya, Matthew dan John. Matthew mengajari Joan membaca dan menulis, sesuatu yang tak boleh dikuasai oleh perempuan di jaman itu.

Continue reading The Day I Wanted To Be A Man

Advertisements

Dracula, Sang Jagal

Vlad Tsepes III atau Dracula bukan diilhami dari kisah Bram Stoker. Dracula adalah adalah salah satu panglima Perang Salib yang membantai ratusan ribu umat Islam di Wallachia.

Continue reading Dracula, Sang Jagal

Move On, Krasivaya

Tokoh sentralnya bernama Lina. Gadis berusia 16 tahun yang memiliki kemampuan menggambar yang baik dan imajinatif, mengidolakan Edvard Munch. Ayahnya, Kostas Vilkas, dideportasi dari Lithuania, saat Uni Soviet (NKVD) mendudukinya. Bersama ibunya, Elena dan adiknya, Jonas, Lina merasakan pedihnya hidup di kamp pengungsi. Mandi bersama, makan bubur berwarna kelabu, kerja paksa dengan upah roti seberat 300 gram.

Keadaan para tahanan perang ini makin mengenaskan saat area ungsi dipindahkan ke Siberia yang begitu dingin.

Continue reading Move On, Krasivaya

Islam Pernah Jaya

Harun adalah seorang khalifah yang mengutamakan intelektualitas. Di masa pemerintahannya, Harun menguasai banyak wilayah dan mengembangkan kebudayaan Islam, didukung oleh kegemarannya akan kisah sastra dan hafalan yang baik pada beberapa nukilan Alquran. Harun sering mengajak para seniman agar bertukar syair dengannya.

Harun memiliki dua anak yang menjadi kandidat penggantinya. Amin dari istri sahnya bernama Zubaidah,

Continue reading Islam Pernah Jaya

A Series Of Grudges

Sudah difilmkan lima kali dan syukurlah, saya belum nonton sama sekali, sehingga buku ini masih ‘suci’ dari imaji harapan. Hanya pengantar yang sangat singkat, tentang awal kisah dari sejumlah intrik yang sangat Hollywood. Sangat Holmes. Hampir sempurna dan tahu segalanya 😉

Continue reading A Series Of Grudges

Perempuan Kembang Jepun: Wanita-wanita Yang Malang Dalam Cinta

Ia tidak pernah lagi mengucapkan kata ‘ibu’ sejak ayahnya mengajaknya pergi meninggalkan perempuan yang selama ini dipanggilnya ‘ibu’,karena perempuan itu selalu membuat matanya berembun dan bergerimis bila ingat bahwa biduk hidupnya pecah dan karam terantuk parut di seluruh wajahnya dan bilur di seluruh hatinya. (hal. 21)

“Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kamar sempit mereka, naluriku sudah mengatakan bahwa perempuan yang untuk selanjutnya kupanggil ‘ibu’ itu tidak menyukaiku. Matanya melotot lebar, mulutnya mengomel sepanjang hari, dan wajahnya selalu membiaskan kebencian dan rasa permusuhan. Bukan cuma sumpah serapah, rasa lapar, pantat piring seng di mulutku, pukulan atau cubitan yang kuterima selama bertahun-tahun, tapi juga penghinaan!…”

“Ia selalu menyebutku ‘lont* kecil’!” seruku histeris bagaikan aum macan terluka. (hal. 244)

Continue reading Perempuan Kembang Jepun: Wanita-wanita Yang Malang Dalam Cinta