Mini Indonesia Dalam Retorika Fu

Yuda(s), si raja taruhan. Dia memiliki banyak koleksi barang unik, yang didapatnya dari hasil menang taruhan. Salah satu yang paling berkesan adalah, sebuah batu endapan sederhana yang bertuliskan secarik kertas, apa yang tak selesai kau mengerti di sini, tak boleh kau tanyakan padaku di luar.” (hal 10)
Batu itu mewakili banyak perubahan dalam hidup Yuda, semenjak mengenal hingga merasakan kehilangan sesosok bernama Parang Jati.

Mahasiswa geologi tingkat akhir ini, bisa membuatnya kalah dalam sebuah taruhan. Pemuda yang juga disebutnya sebagai bermata bidadari, memiliki pesona keluguan, kedalaman bersikap, sekaligus keikhlasan untuk melakoni hidupnya yang tak biasa. Jati mengkampanyekan clean climbing, sebuah ‘agama’ pendakian bersih, tanpa bor, dilakukan dengan menyakiti alam sesedikit mungkin. Yuda dan Jati bertaruh mengenai kematian dan kebangkitan seorang penduduk desa. Kekalahan langka bagi Yuda ini, membawa mereka ke sejumlah petualangan menarik lain di wilayah Watugunung. Petualangan yang mengajari Yuda berpikir ulang jika akan mengajukan taruhan dan keputusan dengan pertimbangannya sendiri.

Kekasih Yuda, Marja, perempuan yang dijuluki kuda teji, mudah iba sekaligus mampu membuat orang menyukainya. Sementara Yuda bercinta diam-diam dengan Sebul, makhluk imajinatif yang dirupakan jakal jantan betina; Marja pun (dibolehkan) berbagi kasih dengan Jati.

Continue reading Mini Indonesia Dalam Retorika Fu

Advertisements

Demi Yang Terkasih

Kapal Blitar Holland, Desember 1938, mengangkut para jamaah haji dari Makassar. Dalam perjalanan menuju Jeddah, kapal transit di Surabaya, Batavia, Padang, Bengkulu, dan Aceh. Kapal kemudian melanjutkan ke Kolombo, Srilanka, baru mengakhiri rute awal di Jeddah.

Cerita dimulai dengan persiapan keluarga Daeng Andipati, keluarga saudagar yang akan berhaji bersama. Ada istrinya yang sedang hamil anak ketiga, Elsa dan Anna (duh, tak ada nama lain kah 🙄), dan bi Ijah.

Bersama kapal uap yang mereka tumpangi itu, ada Gurutta Ahmad Karaeng, ulama termasyhur, tokoh ‘bapak tua’ yang hampir selalu ada di novel Tere Liye 😉

Continue reading Demi Yang Terkasih

Move On, Krasivaya

Tokoh sentralnya bernama Lina. Gadis berusia 16 tahun yang memiliki kemampuan menggambar yang baik dan imajinatif, mengidolakan Edvard Munch. Ayahnya, Kostas Vilkas, dideportasi dari Lithuania, saat Uni Soviet (NKVD) mendudukinya. Bersama ibunya, Elena dan adiknya, Jonas, Lina merasakan pedihnya hidup di kamp pengungsi. Mandi bersama, makan bubur berwarna kelabu, kerja paksa dengan upah roti seberat 300 gram.

Keadaan para tahanan perang ini makin mengenaskan saat area ungsi dipindahkan ke Siberia yang begitu dingin.

Continue reading Move On, Krasivaya

Islam Pernah Jaya

Harun adalah seorang khalifah yang mengutamakan intelektualitas. Di masa pemerintahannya, Harun menguasai banyak wilayah dan mengembangkan kebudayaan Islam, didukung oleh kegemarannya akan kisah sastra dan hafalan yang baik pada beberapa nukilan Alquran. Harun sering mengajak para seniman agar bertukar syair dengannya.

Harun memiliki dua anak yang menjadi kandidat penggantinya. Amin dari istri sahnya bernama Zubaidah,

Continue reading Islam Pernah Jaya

A Series Of Grudges

Sudah difilmkan lima kali dan syukurlah, saya belum nonton sama sekali, sehingga buku ini masih ‘suci’ dari imaji harapan. Hanya pengantar yang sangat singkat, tentang awal kisah dari sejumlah intrik yang sangat Hollywood. Sangat Holmes. Hampir sempurna dan tahu segalanya 😉

Continue reading A Series Of Grudges