Berkenalan Dengan Hawking

Judul buku: My Brief History
Penulis: Stephen Hawking
Alih bahasa: Zia Anshor
Perwajahan: Sukoco
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan kedua, Juli 2017
Tebal: 174 hal
ISBN: 978-602-03-0006-1

“…Saya menulis makalah sains dengan mendiktekannya kepada sekretaris, dan saya memberi seminar lewat penerjemah yang mengulang kata-kata saya agar lebih jelas. Tapi trakeotomi (pemotongan tenggorokan) menghilangkan kemampuan saya untuk berbicara. Untuk beberapa lama, satu-satunya cara saya berkomunikasi adalah dengan mengeja tiap kata dengan mengangkat alis tiap kali ditunjukkan huruf yang saya maksud. Sukar berkomunikasi dengan cara seperti itu, apalagi menulis makalah sains…” (hal. 114)

Sekian tahun saya mencari siapakah penulis yang berhasil membuat hasil karya, di tengah hambatan sakit dan keterbatasan fisiknya. Ternyata penulis itu adalah Stephen Hawking. 

“Ketika saya berumur dua puluh satu dan mulai menderita ALS, saya merasa itu sangat tidak adil. Mengapa harus terjadi kepada saya? Waktu itu, saya merasa hidup saya sudah berakhir dan saya tak bakal mencapai potensi yang saya rasa saya miliki. Tapi sekarang, lima puluh tahun kemudian, saya bisa puas dengan hidup saya…Kendala fisik saya tidak menjadi halangan serius dalam karya sains. Malah dalam beberapa hal keadaan itu saya anggap keberuntungan…” (hal 164-5)

-continue reading

Advertisements

Mereka Juga Bisa Setara

Judul Buku: Shafa, Saatnya Tuna Rungu Bicara
Penulis: Eimond Esya
Penyunting: Royke Muhammad Rozak
Penerbit: Memoira Publisher, Bandung, cetakan kedua, Juni 2013
Tebal :251 halaman

Bagaimana saya menemukan buku yang tak lagi beredar di pasaran ini, rasanya seperti ketiban anugerah tak terduga. Sekitar 2-3 tahun lalu, saya sempat mengenal sosok Fajar Bon Bon via online, seorang pemerhati anak kebutuhan khusus. Keponakan pak Fajar adalah seorang penyandang tuna rungu. Pak Fajar ini hanya sedikit menceritakan perihal kemajuan Shafa, seorang penyandang tuna rungu tingkat berat (profound), namun bisa bicara dengan baik melalui bantuan ABD (Alat Bantu Dengar). Saya tak tahu jika sudah ada buku mengenai Shafa, yang terbit sejak tahun 2009, tahun di mana anak saya lahir. Hingga suatu hari terdampar di sebuah status seseorang, ada nama Eimond Esya yang unik dan kemudian saya ubek-ubek profilnya.

Ternyata beliau ini yang menulis bukunya ibu Khoriyatul Jannah tentang Shafa. Saya sempat juga baca pengalaman Shafa melalui internet, namun tak sedetail di buku tentunya.

Continue reading Mereka Juga Bisa Setara