Kesunyian Yang Menawan

Judul buku: Beauty In Silence
Penulis: Marjam Rudijanto
Penyunting: Linna Permatasari
Foto sampul: Simon Herdman
Perancang sampul: Teguh Tri Erdyan
Penata letak: Desti Putri Tiararini
Penerbit: GAIA, Jakarta, 2014
Tebal: 203 hal
ISBN: 978-979-91-0800-5

“Saya harus bisa berbesar hati menerima berbagai macam bahasa, termasuk bahasa isyarat. Saya yakin semua orang tua pasti berharap anaknya yang tuli bisa berbicara, namun akhirnya saya menyadari bahwa kelompok anak tuli adalah kelompok minoritas yang memiliki budaya dan bahasanya sendiri yang selayaknya harus diterima dan dihargai. Saya akhirnya melihat bahwa sebagaimana bahasa lainnya, tak ada bahasa yang statusnya lebih rendah. Semua bahasa adalah sarana untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, ide, pendapat, dan alat untuk berkomunikasi.” (hal. 22)

Efek setelah pilihan total komunikasi diambil keluarganya:

dia lebih ceria, lebih spontan, lebih ekspresif, matanya lebih hidup, dia lebih mampu mengendalikan emosi, lebih bervariasi, …

Marjam Rudijanto, adalah ibu dari Erika. Marjam dulunya adalah seorang dosen psikolog UI, yang melepaskan karirnya, demi mengabdi penuh kepada keluarga, apalagi saat si bungsu Erika, tervonis tunarungu. 
Continue reading Kesunyian Yang Menawan

Advertisements

#TNTrtw1: Pemerintah Dan Wisata Alam

Judul Buku : The Naked Traveler- 1 Year Round the World Trip
Penulis : Trinity
Penyunting : Nurjannah Intan/Perancang Sampul : Labusiam dan Bara Umar Birru
Pemeriksa Aksara : Pritameani dan Titish A.K.
Ilustrasi Isi : Upiet
Ilustrasi Peta : Agung Budi Sulistya
Foto : koleksi pribadi penulis
Penerbit : PT B First (Bentang Pustaka), September 2014
Tebal : 246 hal

Percayalah kepuasan itu bukan karena kita bisa jalan-jalan gratis. Kepuasan sesungguhnya adalah bila kita bisa jalan-jalan dengan menggunakan hasil keringat sendiri! (hal 131)

Ini adalah buku kedua Trinity tentang Naked Traveler yang saya baca. Buku paling awal yang berwarna biru itu, saat pertama Trinity mengepakkan sayap di dunia traveling dan seluk beluk komersialisasinya. Saat itu dia masih mbak-mbak kantoran, yang meributkan kenapa hanya ada 12 hari cuti, membandingkan dengan negara-negara di Eropa yang pekerjanya bisa cuti hingga 40 hari dalam setahun.

-continue reading->