Berkenalan Dengan Hawking

“…Saya menulis makalah sains dengan mendiktekannya kepada sekretaris, dan saya memberi seminar lewat penerjemah yang mengulang kata-kata saya agar lebih jelas. Tapi trakeotomi (pemotongan tenggorokan) menghilangkan kemampuan saya untuk berbicara. Untuk beberapa lama, satu-satunya cara saya berkomunikasi adalah dengan mengeja tiap kata dengan mengangkat alis tiap kali ditunjukkan huruf yang saya maksud. Sukar berkomunikasi dengan cara seperti itu, apalagi menulis makalah sains…” (hal. 114)

Sekian tahun saya mencari siapakah penulis yang berhasil membuat hasil karya, di tengah hambatan sakit dan keterbatasan fisiknya. Ternyata penulis itu adalah Stephen Hawking.

“Ketika saya berumur dua puluh satu dan mulai menderita ALS, saya merasa itu sangat tidak adil. Mengapa harus terjadi kepada saya? Waktu itu, saya merasa hidup saya sudah berakhir dan saya tak bakal mencapai potensi yang saya rasa saya miliki. Tapi sekarang, lima puluh tahun kemudian, saya bisa puas dengan hidup saya…Kendala fisik saya tidak menjadi halangan serius dalam karya sains. Malah dalam beberapa hal keadaan itu saya anggap keberuntungan…” (hal 164-5)

-continue reading

Advertisements