Kesunyian Yang Menawan

Judul buku: Beauty In Silence
Penulis: Marjam Rudijanto
Penyunting: Linna Permatasari
Foto sampul: Simon Herdman
Perancang sampul: Teguh Tri Erdyan
Penata letak: Desti Putri Tiararini
Penerbit: GAIA, Jakarta, 2014
Tebal: 203 hal
ISBN: 978-979-91-0800-5

“Saya harus bisa berbesar hati menerima berbagai macam bahasa, termasuk bahasa isyarat. Saya yakin semua orang tua pasti berharap anaknya yang tuli bisa berbicara, namun akhirnya saya menyadari bahwa kelompok anak tuli adalah kelompok minoritas yang memiliki budaya dan bahasanya sendiri yang selayaknya harus diterima dan dihargai. Saya akhirnya melihat bahwa sebagaimana bahasa lainnya, tak ada bahasa yang statusnya lebih rendah. Semua bahasa adalah sarana untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, ide, pendapat, dan alat untuk berkomunikasi.” (hal. 22)

Efek setelah pilihan total komunikasi diambil keluarganya:

dia lebih ceria, lebih spontan, lebih ekspresif, matanya lebih hidup, dia lebih mampu mengendalikan emosi, lebih bervariasi, …

Marjam Rudijanto, adalah ibu dari Erika. Marjam dulunya adalah seorang dosen psikolog UI, yang melepaskan karirnya, demi mengabdi penuh kepada keluarga, apalagi saat si bungsu Erika, tervonis tunarungu. 

Erika lahir di tahun 1988, sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Setelah dinyatakan tuli, dia menjalani sekolah di SLB Santi Rama sejak usia 3 tahun. Sekolah dilanjutkan ke SLB Pangudi Luhur. Hanya sebentar, Erika kemudian memulai sekolah dari dari awal lagi ketika ayahnya pindah tugas ke Singapura. 

Marjam memilih sekolah khusus tuli yang menggunakan metode total komunikasi, yaitu perpaduan antara bahasa verbal, isyarat, juga gambar.

Erika memiliki kemampuan handal dalam berenang, namun dia sempat ditolak untuk les bersama anak normal, karena dia tuli. Meski sudah menunjukkan kemauan untuk tidak bergantung dan kemampuan untuk beradaptasi, tetap ada halangan dari orang tua murid yang tak mau anaknya berkumpul dengan anak difabel. Duh, saya pikir masalah beginian masalah ‘ndeso’. Ternyata di negara setertib dan segemerlap Singapura pun, tetap ada pemujaan pamor akademis dan fisik.

Di usia 11 tahun, Erika pindah sekolah lagi ke Australia. Di sana dia mengenal ilmu komunikasi visual, yang kemudian menjadi bidang ketertarikan utamanya. Di usia ke 13, Erika meminta implant karena banyak teman tulinya di Australia menjalani implant dan berhasil mendekati normal, yaitu mendengar dan bicara dengan cukup baik. Sayangnya implant di usia di mana fisik sudah tak selentur anak-anak lagi, memberikan beban psikologis yang cukup berat. Dia menyadari bahwa suaranya tak bagus 😐

Meski demikian, Erika menyukai lingkungan di Australia. Mereka yang normal berusaha untuk berbicara dalam bahasa isyarat, menulis, dan apapun demi berkomunikasi dengannya. Ini membuatnya merasa nyaman dan dihargai.

Kembali ke Singapura, kembali dia mengalami diskriminasi, meskipun dia sudah menunjukkan pencapaian yang outstanding di bidang seni dan eksakta. Setara, bahkan melebihi yang normal. Itu semua tak berarti, karena alasan sama, dia tuli 😤 Erika harus menjalani berbagai tes lagi untuk standarisasi. 

Erika adalah seorang gadis pemberani yang menyukai travelling. Tanpa orang tua, tanpa jurbah (juru bahasa), dia sudah berkelana ke Thailand, Philipina, India, dan sejumlah negara Asia lainnya. Dia mengandalkan kemampuan total komunikasinya, yaitu lips reading, menulis, dan juga bahasa isyarat. 

Sebagai bentuk dedikasinya kepada kaum tuli, Erika dia memilih berkecimpung di bidang komunikasi visual. Melalui kemahirannya menggambar, dia menyuarakan bagaimana tersisihnya kaum tuli. Kaum tuli lebih diharapkan bisa mendekati normal, dengan menjalani berbagai jenis terapi, sehingga hampir seluruh masa kecil mereka dituntaskan di balik meja kepatuhan. 
Menyodorkan berbagai jenis pilihan komunikasi kepada anak, sebenarnya memberikan kesempatan kepada anak untuk maju sesuai dengan kenyamanannya. Paksaan akan satu jenis komunikasi, yang terbaik menurut orang tua, malah membuat potensi anak menguncup atau mundur. Apalagi mengingat, tak semua anak tunarungu nyaman dengan bersuara ☺

Demi Erika, ibunya pun memutuskan untuk belajar bahasa isyarat. Ketika Marjam mengalami kesulitan berbahasa isyarat,
Saya jadi merenung, bahwa Erika pun mengalami kesulitan yang sama sewaktu dia belajar bahasa oral. Bagi anak buta, mereka diajarkan huruf Braille. Kalau anak cacat fisik, mereka diberikan kursi roda. Untuk anak tuli, seharusnya diajarkan bahasa isyarat, namun di Indonesia banyak orang meremehkan dan tidak mau belajar bahasa isyarat. Mayoritas orang tua menginginkan anaknya bisa bicara, karena beranggapan inilah yang terbaik. Memang beberapa anak dengan gangguan berat atau sangat berat bisa diajarkan bicara tetapi banyak waktu dihabiskan melalui terapi intensif, sehingga mengorbankan potensi lain yang tak sempat dikembangkan. Seringkali dalam proses menuju kemampuan bicara itu, harga diri mereka hancur dan konsep diri mereka menjadi negatif, karena bagaimanapun perjuangan dan usaha mereka, tetap mereka tak bisa menyamai kemampuan bicara anak ‘mendengar’. Hal ini banyak terjadi pada siswa laki-laki, karena biasanya laki-laki dianggap kurang verbal….. Akibatnya jiwa siswa laki-laki banyak yang terluka. Mereka enam kali lebih banyak mengalami kesulitan belajar, tiga kali ketergantungan obat, empat kali mengalami gangguan emosi, kecelakaan, tindakan kriminal, dibanding siswa perempuan.” (Hal. 179)

Kisah Shafa dengan alat bantu dengarnya ada di Mereka Juga Bisa Setara

Kisah Gwen dengan implantnya ada di Aku Bisa Dengar, Aku Bisa Bicara

Semuanya kisah anak perempuan ya 😉. Ada satu kisah Audy, lelaki yang memakai alat bantu dengar, tapi saya belum dapat bukunya. Yang memilih tuli sebagai identitas, belum dapat bukunya. Boleh infokan ke saya ya, jika sudah ada. Terima kasih…

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

2 thoughts on “Kesunyian Yang Menawan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s