Hubungan Nyata Itu Lebih Baik

Sebenarnya agak malu juga mengetahui bahwa arti kancut adalah celana dalam. Pertimbangan saya beli buku ini adalah karena covernya unyu, lalu menebak isinya pasti lucu, dan kebetulan harganya lagi diskonan 😄 Memang sih, isinya lucu dan mengandung nostalgia, tapi kayaknya sudah bukan masanya saya baca buku semacam ini. Too old to read this book, hehehe…

Udah 26 tahun! Udah om-om! (hal 116)

Ini kalimat menohok banget, mengingat saya belum menikah di usia ini, baru persiapan. Sementara saat saya membaca buku ini, sudah beranak dua 😂

Buku yang ditulis para ‘anak-anak’ sekolah dan kuliahan ini, mengingatkan satu nostalgia waktu masih ramai jaman mIRC, laptop masih mahal, jadi mesti menyewa komputer di warnet.

Saya sempat hampir kopdar. Beraninya chatting di sekitar rumah, jadi saya ajak si teman chatting itu ketemuan di rumah ortu. Habis janjian, saya terus pergi ke toko lamaaa banget 😂 Eh, dia datang beneran dan ditemuin Bapa. Bapa hanya berkomentar bahwa dia kikuk. Saya jelaskan bahwa saya kenal dia lewat internet. Biar ortu saya gaptek dan ga paham sama sekali apa isi internet, saya tetap berkewajiban memberitahu apapun. Soalnya nih, kalau ada apa-apa, ortu kena juga kan 😉

Begitulah, saya tak pernah percaya hubungan digital yang tak dibarengi dengan hubungan nyata. Hubungan nyata aja bisa dimanipulasi, apalagi hubungan yang hanya mengandalkan teknologi. Nah, di buku ini sebagian besar mengamini kondisi tersebut.

Hal yang paling susah dari pacaran online adalah mempertahankan hubungannya setelah kopdar (hal 84).

Kadang memang harapan kita membumbung terlalu tinggi ketika online bersama seseorang yang belum kita kenal dalam dunia nyata. Buku yang difilmkan banyak bikin penggemarnya kecewa kan, karena memang susah menyatukan imajinasi penggemar yang beragam, imajinasi si penulis, hingga aktualisasi para pekerja seni itu dalam bentuk layar lebar. Pun imajinasi dua orang yang akan kopdar, harapan sih boleh sama, tapi kenyataan pasti melenceng jauh. Dijamin! 😁

Begitulah, jangan berharap terlalu tinggi pada sesuatu yang tak kita ketahui dengan pasti, karena hidup ini bukan film fiksi yang akhirnya selalu happy ending (hal 17)

zaman dulu orang-orang lebih ekspresif dalam hal ngegaet pasangannya, blak-blakan, dan langsung ke target yang dituju (hal 27).

Gawai, yang biasanya mempermudah dalam berbagai urusan, ternyata malah bikin rumit urusan hati. Ada yang merumuskan dirinya sebagai penderita caligynephobia, yaitu fobia terhadap wanita yang berparas cantik. (hal 24).

Sebagian orang memang menikmati hubungan virtual itu, sekadar sebuah bentuk penasaran, bukan karena sangat berharap. Cyber love sudah menjadi kebiasaan buat gue. Bukan karena gue nggak laku di dunia nyata, tapi gue lebih suka dengan hal-hal yang menantang dan bikin penasaran. Oleh karena itu gue lebih suka penasaran sama gebetan-gebetan yang gue incar di jejaring social. Dan tantangannya gue harus bisa memacari dia. (hal 136).

Kebetulan, saya mengenal internet dan isinya yang begitu ajaib, ketika sudah cukup umur (baca: tua). Penasaran sih ada, manusiawi juga, namun tak sampai mengkhayal berlebihan. Waktu kuliah sempat chatting dengan bule, yang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba menyodorkan (maaf) gambar alat kelaminnya. Sempat muncul berkali-kali, sampe bikin eneg, karena tak bisa diabaikan begitu saja. Saya segera sudahi chatting hari itu dan kembali pada tujuan awal, mengerjakan tugas dan mencari bahan.

Bagaimanapun, meski masih tersisa ruang ketidakmungkinan, sesuatu yang nyata itu jauh lebih baik. Mengingatkan bahwa kita ini manusia, bukan robot 😉

Judul buku: Kancut Keblenger, Digital Love
Penulis: Irvina Lioni, Anggi Tristiyono, Ahmad Firdaus, Diana Puspita, Rizky Noorahmi, Kinanti Kawuryan, Mutia Han, Alitt Susanto
Editor: Syafial Rustama n Elly Afriani
Penata letak: Irene Yunita
Desain sampul: Gita Mariana
Ilustrasi kaver: Yulian Aditya
Penerbit: Bukune, 2013
Tebal: 186 hal
ISBN : 602-220-101-2

12 September 2014

Advertisements

Published by

esthy wika

Saya menulis tentang difabilitas terutama tuli, kisah sekolah dan pengasuhan, dan sesekali mengenai agama politik musik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s