Santri Metro

Judul buku: #catatan kaki-Love Changes People
Penulis: Endik Koeswoyo dan Sarah Karinda
Penerbit: de TEENS, April 2013
Tebal: 228 hlm
ISBN : 978-602-255-103-4

Seorang citizen journalist yang standar dan seorang account executive perusahaan iklan yang sukses, dipertemukan melalui campur tangan teknologi.

Bumi si jurnalis, dalam gambaran saya, orangnya nggak terlalu menarik, sedikit clumsy, tapi baik dan tanggungjawab. Tania, seperti halnya wanita karier lajang yang sukses, yang seolah selalu bersikap, “Sini gue beli aja.”

Cerita tentang Bumi, lempeng, biasa-biasa aja, mungkin karena itu kali ya, dia diputusin sama ceweknya (ih, statement ini jahat banget) 😈

Cerita tentang Tania, well, saya ga terlalu suka dengan karakternya dan bisa ngebayangin bagaimana nyebelinnya dia. Hihihi, sepertinya ada muatan konflik internal, wanita karier vs ibu rumah tangga. Tapi begitu nyampe di halaman 117, saya baru berasa pengen toss sama dia,

“….Whatever you call me what ya, tapi aku nggak pernah beli barang KW…”

Meski plin plan urusan asmara, yaah, at least dia punya sikap soal penghargaan sebuah karya seni dan hak cipta. Bagian inilah yang bikin saya agak sedikit simpati dengan tokoh Tania Soebagjo. Mending beli merk lokal atau merk ga jelas, tapi bukan KW, daripada Louis Vuitton tapi bikinan Tanggulangin Sidoarjo, entah KW berapa. Memposisikan diri,  seandainya saya punya desain yang bikinnya susah payah, sampe dibelain ga tidur dan berjuang memasarkan bertahun-tahun, eh ada (bahkan banyak) yang maen comot ide aja, trus bikin produk serupa dan lebih laku karena murah. Grrrh…

Tentu saja bagian terbaik yang bikin ngiler adalah bagian dimana Tania begitu mudahnya “lari” ke Dubai, Kuala Lumpur, New York, Paris, Hongkong, dan juga kota besar lainnya  di dunia. Gila, ada ya kerjaan kayak gitu, atau saya aja yang super udik 😂

Tapi ada beberapa bagian janggal yang nggak ketangkep sama imajinasi saya, yaitu bagian Tania ngajak Riska, sohibnya, ke Taj Mahal. Itu udah janjian sama Bumi belum ya, trus akhirnya ke Taj Mahal hanya demi melihat istananya si Mumtaz sebagai bukti cinta itu atau apa ya. Ah, ada missing pieces yang nggak saya tahu, ini ngeclue kemana.

Juga bagian ketika Bumi bertemu dengan seseorang di Blok M Square, ga jelas siapa yang ditemuinya. Katanya sih, dulunya seorang teman kampus yang diidolakan dan berjilbab, dan sekarang uda jadi orang metro dengan dandanan serba seksi.

Perhaps, dua kejadian ini dimaksudkan sebagai pengaya adegan. Sayang, jadinya seperti dipaksakan, kecuali bagian merk Private Person yang disukai si Bumi, nekat “nyempil” di antara sekian nama tenar seperti Vera Wang, Louis Vuitton, Balenciaga, Bottega Venetta, Prada, Christian Louboutin,…

Sepertinya bang Endik, yang bernarasi sebagai si Bumi ini, ngefans dengan Yusuf Mansur. Terbukti banyak banget kata sedekah, lolos edit ato memang dibiarkan begitu, bahkan muncul bersamaan di halaman 10 dan 11. Sedekah senyuman pulak, bukan sedekah duit atau barang 😀

Sepertinya juga, ada sebuah idealisme terpendam, yang ujungnya mungkin bakal ngarahin Tania untuk di rumah aja jadi ibu rumah tangga dan bikin anak banyak, sementara si Bumi akan lebih giat mencari nafkah. Kalopun nanti dibikin sekuelnya, jadi terlintas film Devil Wears Prada. Si cewek “terpaksa” menjadi sangat metro dan terseret arus fashionable, demi pekerjaannya. Berhubung dunia fashion dan kaum marjinal adalah dua hal yang sangat berbeda, akhirnya sepasang kekasih dalam film ini mengalami konflik kepentingan. Bumi, sebagai jurnalis dengan pengetahuan cukup mapan, bukannya tak paham, namun berusaha mempersiapkan diri,

“…walaupun tiap hari aku harus mencoba memahami kebiasaan belanjamu, obsesimu dengan karier, atau persepsi hidupmu yang bagaikan langit dan bumi sama aku… (hal.223)

Dalam kenyataan, kondisi religius dan metropop adalah hampir mustahil untuk bertemu, a totally different world. Bahkan tak perlu mengusung nilai religius sekalipun, kehidupan standar dengan kehidupan serba merk, harus mengalah salah satu. Imajinasi seorang penulis memang tak bisa diarahkan secara kolektif, itu murni hak penulis. Kata AS Laksana sih, kisah inspiratif membatasi imajinasi. Mungkin begitulah yang terjadi disini, usaha inspiratif sedikit berbalut nilai agama menjadi tidak maksimal ketika bertemu dengan gaya metropop yang berusaha untuk kembali religius.

“Mengawinkan” metropop dengan religi secara gradual, seperti masih mempersilakan pacaran, dandanan kasual, sementara itu juga, slightly, memasukkan ide tentang solat dan taaruf.

After all, novel ini santai dan ringan, dan yang pasti sarat dengan traveling knowledge yang bikin ngiler 😊

Bagian yang saya sukai, adalah soal cinta yang harus diusahakan, 

“jangan jatuh cinta, tapi bangunlah cinta…” (hal.57)

Pesan ibu si Bumi, bahwa dia tak boleh melepas wanita yang kesalahannya bisa dia maafkan, membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda, jangan dilepaskan. Teringat dengan film kartun Hotel Transylvania tentang zing atau getaran cinta yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Ada sebuah kesepakatan bahwa cinta memang bukan logika, namun harus dipertahankan dengan sekian logika. Demikian.

13 Agustus 2014 (dari blog lama)

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s