Sedekah Yang Berencana

Judul buku: Sedekah Super Stories
Penyusun: Muhammad Assad
Artistik: Achmad Subandi
Penerbit: PT Elex Media Computindo, Jakarta 2012
Tebal: 261 hal

Sudahkah anda sedekah hari ini?
Ikhlaskah anda dengan barang yang telah anda sedekahkan?
Mengenai keikhlasan kita yang masih belum tergenapkan secara mutlak, silakan baca pertimbangan alasannya di tulisan Ya Allah Mana Balasan Sedekahku. Ada perspektif sedekah lain yang baru bisa saya pahami dari buku ini.

Buku dibuka dengan catatan si penulis utama, bahwa sedekah bisa membeli apapun keinginan kita. Jenis sedekah apa saja, pun asumsi mendasar bahwa 2.5% adalah nominal yang terlalu kecil untuk bersedekah. Keluarga besar Assad saat ini sedang melanjutkan pembangunan Sekolah Hafidz Daarul Qur’an Affan sebagai bentuk sedekah jariyah. 

Saat launching buku Notes From Qatar, diceritakan bagaimana Assad berhasil mengadakan acara berbiaya kurang lebih 100 juta rupiah, namun tak mengeluarkan sebanyak itu. Dia menekankan usaha semaksimal mungkin, selanjutnya biar Allah yang menjalankan. Sedekah itu seperti memindahkan mobil dari jalan biasa yang macet dan berlubang menuju jalan tol yang lengang dan mulus (hal. 39).

Sayang tidak dikisahkan sedekah apa saja yang dia lakukan untuk mencapai 100 juta itu tadi. Dia berikan gambaran, karena (keyakinan) akan dibalas 10 kali lipat dari jumlah yang kita sedekahkan, maka paling tidak ada uang 10 juta yang harus dikeluarkan di jalan Allah. Yang lebih dia tekankan adalah bagaimana ikhtiar maksimal tak boleh ditinggalkan. Modal besar yang dimiliki Assad adalah, networkingnya sangat bagus ☺

Tentang kisah inspiratif para penyedekah, ada dua kisah unik, beda dari kisah mainstream lainnya. Yang pertama, kisah Tiffany Aviana yang bersedekah dan berhasil mendapatkan pinjaman bank untuk usah showroom mobil. Bunga bank ya, uhuk… Yang kedua, kisah Jessica Jayawiguna yang nonmuslim, namun tertarik mengikuti saran Assad untuk bersedekah. Dia memahaminya dari versi agamanya sendiri sebagai hukum tabur tuai.

Sedekah adalah istilah dalam Islam, namun realisasi filantropis ini juga dikenal di agama dan keyakinan lain. Bill Gates, Oprah Winfrey, Keanu Reeves, mendiang Bunda Theresa, mendiang Lady Di; adalah sejumlah nama besar yang begitu antusiasnya memberikan sumbangan kemanusiaan. Mereka tak kemudian jatuh miskin, bukan? 😉

Masalah keikhlasan yang sering jadi perdebatan, menyangsikan betapa matrenya kita (Muslim) yang menginginkan balasan sedekah. Sementara mereka yang non muslim, sependek yang saya tahu (mohon dikoreksi jika kurang tepat), tak memiliki pemahaman bahwa sedekah bisa sebagai bentuk penyucian jiwa harta serta pengabul permohonan. Secara kasat mata, mereka nampak lebih saleh dan ikhlas dalam meningkatkan relasi kepedulian dengan sesama. 

Bagaimanapun, sedekah adalah sebuah aplikasi tauhid dalam bentuk materi. Kebergantungan kita pada Sang pemilik dunia, dengan memohon hanya kepadanya saja. Sementara urusan dengan sesama, adalah wajib dalam bentuk yang lebih jelas ukurannya. Antara lain zakat untuk harta yang sudah mencapai nisab, zakat fitri tiap tahun, kurban bagi yang mampu, dan banyak lagi pilihan kewajiban lain.

Dengan membaca kisah-kisah yang ada di sini, saya menemukan perspektif baru mengenai keberhasilan sedekah. Oya, ini personal ya, jangan dicampuradukkan dengan zakat dan bantuan umat ☺

Sedekah pun bisa menjadi alat untuk mencapai keinginan kita. Hampir sama caranya dengan MLM, tetapkan target, rencana, lalu bekerja keraslah. Cara menetapkan target, bisa anda ikut versi MLM, semisal tempelkan foto target yang anda inginkan di tembok, entah itu berupa ka’bah, mobil, kota besar di dunia yang ingin dikunjungi, rumah, atau apa saja. Asma Nadia pernah menceritakan bahwa, kota-kota yang dikunjunginya saat ini adalah kota yang tanpa sadar dia tuliskan di lemarinya.  

Saya sarikan dari buku testimoni ini ya, inti sedekah yang berhasil:
1. Tetapkan target dan tujuan, dalam bentuk gambar ataupun mematrinya dalam benak.
2. Perkirakan biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkannya,jika dipenuhi sendiri. Sedekahkan kurang lebih 10% atau lebih dari nominal itu.
3. Kerja sekeras mungkin ke tujuan yang sudah ditetapkan, seolah memang kita sedang mengusahakan itu terwujud tanpa bantuan siapapun.
4. Tambahkan dengan sholat, tahajud, doa, dan ibadah lainnya. Seperti seorang pria yang rela melakukan apa saja demi kekasihnya, seperti anak-anak yang mau disuruh apa saja demi permen kesukaannya, seperti anak buah yang siap bekerja apa saja demi kenaikan pangkat. Begitukan kepada Allah.
5. Berbaik sangkalah pada Allah, pasrahkanlah hasil apapun padaNya. Inshaallah yang terbaik yang akan anda dapat. 

Untuk penampilan fisik bukunya, sebenarnya saya agak kecewa saat membuka sekilas pada halaman acak. Banyak cerita yang menggunakan singkatan ‘gw, kpn, utk…’. Ini kan buku, bukan sms bayar per huruf, kenapa mesti disingkat-singkat 😕

Yang kedua, soal nama mereka yang tak dicantumkan sebagai penulis kontributor, padahal Assad hanya memberikan tulisan di beberapa halaman awal. Apalagi banyak tulisan singkatan begitu, saya lumayan terganggu, ngeditnya gimana sih…

Overall, pelajaran pentingnya banyak selain soal sedekah, antara lain: pergunakan nama tenarmu dengan sebaik-baiknya, hargailah jerih payah orang lain, berbahasalah dengan baik/hormati bahasa ibu dan mata para editor nazi begini, hehehe…

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s