Writerpreneurship: Sebuah ‘Pisau Dapur’

Judul buku: Writerpreneurship
Penulis: Dwi Suwiknyo
Penerbit: SalmaIdea, Agustus 2014
Tebal: 212 hal

“Kumenulis sepenuh jiwa, menulis dengan detail sehingga orang lain akan menghargai setiap tulisanku tanpa aku memintanya.” (hal 153)

Membaca buku ini sambil memandang tumpukan tulisan yang urung saya perjuangkan untuk terbit. Menurut buku ini, berhenti memperjuangkan tulisan kita sama dengan mengkhianati mimpi sendiri 😯

Buku ini memang seperti pisau, pisau dapur tepatnya. Terasa ngilu mengiris (kebiasaan menulis yang kurang tepat), tapi sekaligus meracik sejumlah sumber daya menuju sebuah karya.

Banyak buku yang menuliskan mengenai bagaimana menulis yang baik, namun hanya sedikit bahkan belum ada yang menuliskan perkara mental menulis. Semacam pengusaha yang mengusahakan barang dagangan atau usahanya agar dikenal orang, begitu juga penulis writerpreneur. Berkenaan dengan mental inilah, Dwi menggolongkan penulis menjadi tiga, yang idealis, hobinomic, dan writerpreneur.

Sebagian tulisan di buku ini pernah saya baca di status. Benar-benar status yang ‘berbunyi gemerincing’ ya. Isinya pun (semoga) bermanfaat bagi umat.

Pemetaannya begini:
✔Jika kita suka menulis, apa yang memotivasi kita untuk menjadi lebih baik? Uang atau karya?
✔Apa yang kita usahakan untuk itu?

Bahkan kegagalan pun bisa diprediksi dan diperkirakan. Banyak jalan menuju Roma. Kegagalan bisa dikarenakan banyak sebab, seperti tulisan tak sesuai dengan genre penerbit, stok tulisan sejenis sudah banyak, tidak mau revisi, materi sudah usang, dan sebagainya.

Seperti halnya sebuah bisnis, saat gagal bukan lalu berhenti tapi berusaha terus menemukan formula yang pas. Takaran kepenulisan sudah dituliskan cukup lengkap oleh pak Dwi di sini, tinggal kita mau melangkah atau tidak…

Kita? Eh, sambil saya menengok naskah sendiri 😯

Saya sendiri akhirnya memilih ngeblog, meski kadang masih menginginkan karya solo bisa terbit. Sempat nulis keroyokan di antologi, namun begitu melihat realitas antologi yang acakadut saya mengundurkan diri dari perlombaan sejenis. Lebih selektif dalam memilih, tapi kok kurang mahir bergaul dengan sesama penulis. Hehe, ini sudah sikap mental yang kurang tepat, karena jika berniat menjadi penulis harus berada pada resonansi yang sesuai.

Buku ini sudah cukup dipoles, jika dibandingkan dengan status harian yang begitu menohok. Kata-katanya lebih taktis, seperti sebuah pisau dapur yang bergerak menyiapkan masakan yang enak. Eksekusinya, tergantung masing-masing penulis kan.

Makalah, skripsi, bahkan status fesbuk, semua bisa dikonversi menjadi penghasilan, asalkan fokus pada tujuan dan tahu cara meraihnya. Sebagai pengaya, mesti diadakan riset untuk mengetahui buku apa yang sekiranya dibutuhkan market, bisa juga dengan cara silaturahim dengan pihak penerbit untuk mengetahui kebituhan itu semua.

Yang saya suka dalam penulisan ini, adalah pak Dwi banyak menggunakan sumber dari penulis lokal, yang beberapa di antaranya sudah dikenal secara pribadi. Jika antara penulis tidak saling mendukung, siapa lagi 😉

Dakwah sudut pandang lain, bahwa Islam bukan sekadar share tausiyah dari berbagai sumber lalu berharap orang lebih baik. Menulis sebagai media dakwah telah dicontohkan dengan cukup baik oleh pak Dwi. Istiqomah, khusnudzon pada Allah, silaturahim, juga ihsan dengan sesama penulis antara lain dengan membantu para penulis muda untuk melangkah.

Semoga langkah-langkah itu senantiasa istiqomah dan tercapai cita-cita mulianya. Amin.

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

2 thoughts on “Writerpreneurship: Sebuah ‘Pisau Dapur’”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s