Ambisi Yang Menyebalkan

Judul buku: Dangerously Perfect
Penulis: Shita Hapsari
Editor: Yooki dan Yuke Ratna P.
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain dan ilustrasi kaver : Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media, 2014
Tebal: 278 hal
ISBN: 979-780-743-6

Sabina, atau Sasa, memiliki harapan tinggi terhadap apapun yang dia lakukan. Realitanya, mana ada sih manusia yang benar-benar sesempurna itu, hingga bisa menjadi apapun yang dia inginkan.

Penulis berhasil membuat saya sebal banget dengan tokoh Sasa satu ini. 

Sebel minta ampun, meski dalam kenyataan ada banyak sekali wanita semacam itu. Menyebalkan karena mereka memiliki gengsi yang begitu tinggi yang tak akan memungkinkan mereka untuk minta maaf dalam posisi apapun, meski mereka bersalah. Tentu saja yang harus digarisbawahi bahwa perempuan dominan macam ini biasanya berpasangan dengan lelaki penurut, yang bila saatnya tiba nanti, bisa meledak mengungkapkan kekalahannya sebagai lelaki 😯

Luki, suami Sasa, yang dipanggilnya dengan Luluk, adalah satu dari sekian suami yang baik, yang harusnya disyukuri Sasa. Dalam argumen apapun, Sasa selalu menjadi pemenang dan memang itu menjadi tujuannya. Bila perlu, dia akan memutarbalikkan fakta lalu merelevansinya sebagai kebenaran paling hakiki. Orang pandai berdebat macam ini, hanya bisa dikalahkan oleh cinta. Itupun masih dengan jalan rumit dan berliku.

Di kantor pun, orang sudah menjauhinya, karena Sasa tak mau kalah, selalu berjuang keras hingga kariernya naik pesat, dalam waktu cukup singkat. Masih untung ada Irene yang bersedia menemaninya. Irene sendiri, seorang bujang, tak pernah luput dari cemooh dan sindiran Sasa, namun dia wanita baik yang bersedia mengalah dan menemani Sasa melewati banyak hal.

Seorang pegawai baru, Niko, hampir saja terlibat cinta segitiga dengan Sasa. Sebagai seorang perfeksionis, Sasa tidak menyukai perselingkuhan, ia menanggapi Niko dengan gayanya yang ‘elegan’ sebagai wujud balas dendam atas kedekatan tak terungkap antara suaminya dengan Kristi, teman sekantor Luluk. Bagusnya, Sasa tidak melanjutkan perasaan itu, meski ia menyimpan sebuah rahasia kecil antara dia dengan Niko, yang tak diketahui siapapun.

Dengan kesibukan masing-masing, hubungan Sasa dengan suaminya menjadi semakin hambar. Luluk mencoba berbaik hati melakukan bulan madu ke Garut, namun tak disetujui oleh Sasa. Perselisihan ini memunculkan gencatan senjata. Luluk menginap di tempat lain selama tiga minggu hingga ulang tahun Sasa. Sasa begitu gengsinya hingga tak tergerak sedikitpun untuk memulai merayu dan minta maaf.

Ini beberapa cuplikan dialog mengenai hubungan Sasa dan suaminya.

“Ah sudahlah, Sa. Kalau kamu sendiri nggak mau repot-repot menyadari dan mengenali adanya masalah di rumah tanggamu, ngapain juga aku harus repot-repot nunjukin ke kamu? Kamu tuh memang egois.”
“Aku egois? Aku udah ngelakuin semua kewajibanku di rumah. Aku juga kerja, cari duit. Aku ikutan bayar tagihan-tagihan kita. Kurang apa lagi?”
“Iya, nggak ada yang kurang dari kamu.”
“Luluk! Jangan ngeledek,” (hal 194)


“Kenapa aku mesti tersenyum? Mestinya aku jual mahal! (hal 117)


“Keep your friends close, but keep your enemies closer.(hal 17)


Sasa ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses berkarir dan menjadi seorang perempuan seutuhnya, menjadi seorang ibu. (hal 71)
Saran dari dr Handono, teman ‘curhat’ Luluk, “Save your money for a vacation, instead of getting counseling. Siapa tahu kelak jika menemukan masalah lagi, kalian cuma butuh piknik. Atau nyanyi-nyanyi gila di karaoke.(hal 269).

No. people don’t change. People tolerate other people. (hal 268). Ini mengingatkan saya pada sebaris penggalan lagu di film Frozen, “…cause people don’t really change…”
Pernikahan itu institusi antara dua orang. Cuma dua orang itu saja yang bisa bikin hancur atau bikin sempurna. It’s their own choice.

Novel ini juga memberi banyak pelajaran tentang pernikahan, bagaimana melihat dan memahami dari sudut pandang pasangan. Mengutip saran dr Dono, nama sebenarnya di dunia nyata, bahwa hidup itu soal sikap kita sendiri. Sikap kita terhadap pasangan, orang tua, teman, orang tak dikenal, dan sebagainya. Seperti halnya wejangan cukup bijak dari Sasa bahwa pernikahan itu adalah institusi antara dua orang, kesepakatan yang posisinya berada di atas ego masing-masing. Sikap baik terhadap satu sama lain dengan mendasarkan diri pada cinta.

–>

Advertisements

Published by

daniar

My nickname is Daniar, just to make me comfortable in writing. I love reading, writing, and dreaming. Enjoy these adventurous minds :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s