#TNTrtw1: Pemerintah Dan Wisata Alam

Judul Buku : The Naked Traveler- 1 Year Round the World Trip
Penulis : Trinity
Penyunting : Nurjannah Intan/Perancang Sampul : Labusiam dan Bara Umar Birru
Pemeriksa Aksara : Pritameani dan Titish A.K.
Ilustrasi Isi : Upiet
Ilustrasi Peta : Agung Budi Sulistya
Foto : koleksi pribadi penulis
Penerbit : PT B First (Bentang Pustaka), September 2014
Tebal : 246 hal

Percayalah kepuasan itu bukan karena kita bisa jalan-jalan gratis. Kepuasan sesungguhnya adalah bila kita bisa jalan-jalan dengan menggunakan hasil keringat sendiri! (hal 131)

Ini adalah buku kedua Trinity tentang Naked Traveler yang saya baca. Buku paling awal yang berwarna biru itu, saat pertama Trinity mengepakkan sayap di dunia traveling dan seluk beluk komersialisasinya. Saat itu dia masih mbak-mbak kantoran, yang meributkan kenapa hanya ada 12 hari cuti, membandingkan dengan negara-negara di Eropa yang pekerjanya bisa cuti hingga 40 hari dalam setahun.

Kini, wanita yang masih melajang ini sudah berkarier solo di dunia traveling sebagai salah satu pelopor tulisan traveling yang ngepop, yang kemudian memunculkan banyak nama baru dan karier sebagai travel writer.

Perjalanan setahun penuh dari bulan Oktober 2012-Oktober 2013 ini dibagi ke dalam dua buku, karena banyaknya yang ia tulis. Yang membedakan ini dengan buku yang lain adalah edisi berwarna pada beberapa kutipan yang dianggap penting dan juga foto-foto. Beberapa halaman pertama berisi tentang persiapan sebelum berangkat keliling dunia, apa saja yang dia bawa untuk persiapan pergi selama setahun.

Untuk orang sekaliber Trinity, masih saja ada masalah nervous sebelum berangkat, seperti mencret di udara (dalam pesawat). Meski selalu memperkaya acara jalan-jalan santainya dengan pengetahuan serius semisal mengenai sejarah dan geografi suatu tempat, Trinity tak lupa menyelipkan kisah konyolnya. Ketika bahasa Inggris tak berlaku pada beberapa kewarganegaraan, maka digunakanlah bahasa tarsan.

“Did you hoek hoek?” tanya dokter sambil menirukan gaya orang muntah.
“Did you tarrra tarrraaa rrrraaa?” tanya dokter lagi, sambil duduknya ganti agak nungging dan tangannya mengibas-ngibas dari arah pantatnya. (hal 10).

😄😄

Perjalanan diawali dari Eropa, yaitu Rusia, Finlandia, Lithunia, lalu Republik Uzupis yang super unik. Negara mungil yang berbatasan dengan Lithuania ini, memiliki warna bendera yang berganti sesuai dengan musim. Satu hal unik lagi adalah 41 butir UUD Uzupis yang super kocak. Misalnya:
12. A dog has a right to be a dog
13. A cat is not obliged to love its owner, but must helpful in time of need. (hal 29)

Hah, emang kucing dan anjing bisa baca?

Perjalanan dilanjutkan ke Polandia, demi memenuhi rasa penasarannya akan Auschwitz dan kamp konsentrasinya. Bab ini menceritakan tentang bagaimana ras Yahudi dimusnahkan oleh tentara Jerman. Ada sebuah pesan besar sebagai penutup, “Please, baca tulisan di atas dengan pikiran terbuka dan jangan SARA. Apapun latar belakangnya, pembunuhan sesama manusia itu tetap tidak dibenarkan.” (hal 36).

Perjalanan ke Amerika Selatan dimulai dengan Brasil, negara yang “beragama” sepak bola dan pantai, serta (menurutnya) tak ada orang jelek. Di semua tempat banyak orang yang bermain bola dan pantai yang selalu ramai dengan pengujung terutama turis local, antara lain pantai Ipanema dan Copacabana.

Ada rodeo khas negara Cile, yaitu dua orang penunggang kuda menangkap satu sapi kecil liar. Sapi ini dipepet ke pinggir arena sampai kejedot, lalu penunggang kuda mendapat nilai berdasar bagian tubuh sapi yang kejedot, dan begitu selanjutnya. Kasihaan sekali anak sapi liar ini 😥

Pemerintah Cile mengandalkan alam sebagai destinasi wisata dan sekaligus menjaganya dengan baik, termasuk melarang mencuci piring menggunakan deterjen karena airnya digunakan suplai minuman semua orang. Jika tak ketemu toilet, harus jalan 100 meter dari aliran air, lalu dikubur sedalam 20cm lalu ditutup. Tisu tak boleh ikut dikubur. (hal 95)

Tibalah di Amazon, yang wilayahnya terbagi antara negara Brasil, Peru, dan Kolombia. Berhubung biaya di Brasil mahal, maka dia mengunjunginya dari Peru. Ada banyak hewan unik seperti squirrel monkey, tamarin monkey, howler monkey, sampai sloth, monyet yang bergerak begitu lambat mirip slow motion di tivi, pink dolphin, juga anaconda yang ternyata tak seseram filmnya J-Lo. Sudah ada Anaconda yang dibintangi J-Lo, saya teringat kartun Rio yang kental nuansa Brasil Amazon, juga karakter Sloth di kartun Ice Age. Well, Amazon memang menyajikan banyak inspirasi ☺

Di Peru, selain Macchu Picchu, ada juga glacier Pastoruri, ngarai Colca, oasis gurun Huacachina,juga pulau terapung Uros. Blok tanahnya terbuat dari akar alang-akang yang membusuk tiap tiga bulan sehingga harus membuat lapisan alang-alang yang baru.
Makanan uniknya:Jungle spaghetti, terbuat dari jantung pisang diolah seperti mie di Amazon.Sate llama di Cile. Eh, ngomong-ngomong soal llama, ternyata bukan llama di Tintin yang menyemburkan ludahnya, tapi namanya guanaco.Daging alpaca (sejenis llama, namun lebih kecil), yang sering dimakan orang Peru, mirip daging sapi
Guinea pig goreng, dengan penyajian dijembreng mirip penyajian kuliner tikus di China. Malahan di Cina masih lengkap dengan hati yang masih berdenyut.

Menuju pulau Galapagos, tempat Darwin menemukan teori evolusi. Kepulauan yang teletak di sebelah barat negara Ekuador ini, benar-benar menjaga kekayaan alamnya. Bandaranya begitu sejuk dan tanpa AC, beberapa penerangan menggunakan sistem solar atau tenaga matahari. 97% wilayah Galapagos adalah taman nasional yang dilindungi, sehingga tak sembarang orang bisa tinggal (hal 173). Pulau juga ini juga kaya akan hewan unik, seperti kura-kura raksasa Galapagos, burung berkaki biru dan berbadan putih atau blue footed boobies, albatross, hingga kebiasaan unik singa laut yang beredar di mana-mana, halte bus sekalipun.

Beberapa bagian akhir ditutup dengan kisah-kisah menarik, antara lain eksperimen di garis lintang nol derajat di Quito (ibukota Ekuador, negara khatulistiwa), tinggal di hostel yang bekas penjara, museum erotis, hingga bagaimana ketemu orang Indonesia atau yang bisa berbahasa Indonesia secara tak terduga.

Buku ini lebih banyak mengulas tentang kekayaan alam dan bagaimana pemerintah setempat menjaganya. Sebagai salah satu sumber paru-paru dunia, yang memiliki wilayah hutan terluas (apakah termasuk yang terbakar) setelah Amazon, Indonesia memiliki banyak sekali destinasi wisata alam dan sejarah yang tak kalah keren dengan negara lain. Pemerintah yang kurang menjaganya, lebih banyak mementingkan proyek komersil yang sebagian di antaranya malah menghancurkan bangunan warisan bersejarah lalu menyulapnya menjadi bangunan modern yang malah mengurangi fungsi sumber daya alam, juga menghanguskan jutaan hektar lahan hutan lalu menyulihnya menjadi lahan kelapa sawit yang sangat tidak ramah pada kelanggengan lingkungan :'(.

Sebagian besar negara di Amerika Selatan memiliki fasilitas yang hampir sama dengan Indonesia, seperti kamar mandi yang becek, bus yang ngetem lamaaa, banyak pengemis dan pedagang asongan berkeliaran. Sementara para backpacker bule mengeluh ini dan itu, Trinity feels at home. Harusnya sih, saatnya traveling ke negara manapun kita bisa survive, karena udah terbiasa dengan kondisi helter skelter di negara sendiri. Tapi kenapa banyak nggak berangkat-berangkat ya??? Uhuk…

–>

Advertisements

Published by

daniar

My nickname is Daniar, just to make me comfortable in writing. I love reading, writing, and dreaming. Enjoy these adventurous minds :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s