Tidak Semua Laki-laki

Judul buku: (New) Catatan Hati Seorang Istri
Penulis: Asma Nadia
Editor: Thenita
Penerbit: AsmaNadia Publishing House, cetakan kesepuluh, Mei 2013
Tebal: 358 hal

Penulis ‘dimusuhi’ oleh sebagian laki-laki, betapa mereka merasa sebagai ‘tertuduh’ dengan adanya buku ini. Namun penulis juga mendapat ucapan terima kasih dari para suami yang merasa jatuh cinta kembali dengan istrinya. Bagi para wanita, mungkin kisah anda ada di dalamnya. Jika memang lebih berat, segeralah mengungkapkan pada orang yang terpercaya. Jika lebih ringan, syukurilah. Jika sama sekali tak mengalami, pahamilah ☺

Benarkah semua pria brengsek? Basofi Sudirman, mantan gubernur Jatim, sudah menyangkalnya lewat lagu,
Tidak semua laki-lakiiii, bersalah padamu. Contohnya akuuuu, masih mencintaimu. Tapi mengapa, engkau masih ragu?”

Asma tetap mendasarkan pada landasan agama, bahwa tak semua laki-laki seperti itu, masih ada yang baik, yakinlah itu. “Saya sendiri menerima aturan poligami yang memang ada dalam Al Qur’an, tetapi cenderung menyetujui pendapat seorang ustadz, yang mengatakan syariat poligami pada dasarnya adalah monogamy, monogamy tetap lebih utama.” (hal 23)

Banyak cerita dalam buku berkisah tentang pengkhianatan pria setelah menikah dan memiliki anak. Saya kira kita sudah sering mendengar dan melihatnya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi tema hangat yang sering diangkat di layar kaca dan layar lebar. Ada yang selingkuh dengan asisten rumah tangga, baby sitter, teman kerja, gadis pedalaman, sahabat sendiri, dan berbagai jenis wanita, yang biasanya, menurut banyak pihak termasuk suami dan anak-anaknya; berada di bawah kualitas istri pertama. Sejumlah pria membutuhkan lebih banyak sentuhan fisik alias hubungan badan, dengan ataupun tanpa ikatan, dengan atau tanpa landasan keimanan, atau bahkan mungkin kebutuhan untuk tetap awet muda dan menarik. Benarkah? πŸ˜‰

Asma berusaha mengimbanginya dengan cerita tentang kesetiaan suami dan kelanggengan sejumlah rumah tangga. Tak banyak memang, namun itu bagian yang menjadi favorit saya, antara lain yang berjudul Kalau saya jatuh cinta lagi, Cinta Bukan Tak Pernah Salah, dan Perempuan Istimewa di hati Aba Agil.

Seorang bapak, menyatakan bahwa jika ia menikah lagi itu karena dia jatuh cinta. Sebelum menikah lagi untuk kali kedua, seorang ikhwan mengingatkannya pada dua hal. Hal pertama, bahwa kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu, karena kebahagiaan itu sawang sinawang. Hal kedua, sakit hati istri pertama sudah pasti akan abadi.” (hal 22-23)

Cinta bukan tak pernah salah, adalah cerita tentang romantisme Aki dan Ene’, (hal 86-105). Sepasang kakek nenek yang tetap memanggil sayang dan memuji kerupawanan masing-masing dengan menyelipkan panggilan geulis dan kasep, hingga usia tua menjelang. Aih, ini bagian yang selalu saya nanti :). Romantisme saat masih sama-sama mulus dan rupawan itu wajar. Namun jika perasaan itu tetap terjaga hingga sudah keriput di sana sini, itu yang luar biasa. Salah satu kunci besarnya adalah memaafkan. Apakah si aki ini begitu lurusnya, sampai tak pernah selingkuh, hingga pernikahan mereka langgeng dan baik-baik saja? Tentu tidak, apalagi si aki pernah ditugaskan ke luar pulau selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya kembali menetap bersama istri dan kedua anaknya. Apalagi banyak pria mengakui isi otak mereka, terutama yang sudah terbiasa dengan hubungan dewasa, akan menjadikannya sebagai kebutuhan. Wajar, manusiawi, lalu kenapa perempuan tak boleh berperilaku yang sama? πŸ˜†

Hehehe, itu aja sih yang mampir dalam benak, kenapa wanita yang selalu menjadi korban dari sebuah cinta yang terlarang. Jika seorang istri selingkuh, betapa tercorengnya dia seumur hidupnya, sementara jika itu dilakukan pihak pria dianggap sebagai kewajaran. Bersabar itu lebih baik, begitu pilihan wanita yang dilukai suaminya. Berhubung ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya, wanita sebenarnya ada di garda depan dalam pembentukan generasi, sedangkan perselingkuhan dan emosi sesudahnya adalah sekian aral yang harus dilewati. Mau bertahan atau memutuskan, adalah dua pilihan tegas yang harus dijalani dengan segala konsekuensinya. Jika bertahan, berarti belajar untuk memaafkan. Jika memutuskan ikatan, berarti belajar untuk menjalani hidup sendiri. Jangan sampai berada di antaranya, bertahan tapi terus mengungkit, atau memilih berpisah namun masih suka melabrak. Tak hanya batin dan jiwa yang sakit, namun juga anak-anak yang menjadi korban utama πŸ˜•

Seorang psikolog menyatakan bahwa tak ada gunanya seorang istri merawat diri supaya suaminya tetap betah tinggal di rumah. Jika memang ada penyakit jiwa atau kecenderungan untuk selalu membutuhkan hubungan intercourse dengan lawan jenis selain istrinya, tentunya harus segera mendapat terapi dan konseling. Sayangnya, konseling masalah rumah tangga masih sangat tabu di negara kita. Sebagian wanita kemudian menjadi berani terbuka dengan adanya buku ini, namun kepada sang penulis πŸ˜‰

Kisah Aba Agil yang tak mau menikah lagi sepeninggal istrinya (hal 240-249) menjadi salah satu bukti kesetiaan seorang pria. Bagi Aba, hubungan biologis tak terlampau penting lagi. dalam perkawinan ada hal lain yang melebihi itu. Hati Ibu Ica yang terlalu bersih dan ikhlas untuk Aba. (hal 248).

Saya teringat kisah Joey Tribbiani dalam serial Friends. Ia memergoki ayahnya selingkuh dan dia sangat marah. Dia melapor kepada ibunya, dan terkejut dengan kenyataan bahwa ibunya sudah tahu kalau bapaknya selingkuh dan membiarkannya. Kondisi (bapak selingkuh) ternyata malah membuat bapaknya lebih bahagia dan selalu ceria di rumah. Ada pula istri pertama Affandi (mendiang pelukis) yang meminta suaminya untuk menikahi asisten rumah tangga mereka. Serumah hidup dimadu, atas petunjuk istri.

Begitulah, masalah selingkuh tak kan pernah usai dibahas dari berbagai macam sudat pandang, berbagai varian yang kebanyakan memang menempatkan pria sebagai pihak yang bersalah. Ada yang menyarankan untuk bertahan hingga kakek nenek, ada yang menyarankan untuk menikah lagi supaya lebih bahagia. Bahagia itu relatif, toh masih banyak pria yang setia tiada tara tanpa perlu gembar-gembor kesana kemari, juga bukan karena takut kepada istri.

Adakah kemudian para pria melakukan pembelaan dengan menulis catatan hati seorang suami? Hehehe, saya pun ikut menunggu πŸ˜‰

Gambar buku dari tokopedia

–>

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s