Kumpulan Tulisan Jihan

Judul Buku : The Davincka Code, How Traveling Inspires You
Penulis : Jihan Davincka
Penyunting : Mudrikah
Penyelaras aksara : Nie
Desain sampul : Yudi Irawan
Desain isi : AbdurRauf
Penerbit : Edelweis, Desember 2013
Tebal : 294 hal

“Home is not a specific location. It’s not always a certain building that’s simply called house. Many times, home are people, along with the memories I’ve created with them.” (hal 52-53)

Places Called Home adalah salah satu bab dalam buku ini yang saya suka, karena bikin sesak di dada, ikutan mengingat masa lampau. Isinya simple saja, soal nostalgia ke rumah Jihan yang tumbuh bersama enam saudara lainnya di jalan Pajenekang 70, Makasar. Isinya cukup mewakili tema buku secara keseluruhan.

Nama Jihan Davincka seringkali aktif dalam beberapa topik perdebatan soal agama dan politik. Kadang dia yang melempar isu, sampai dibully dan herannya, dia tetap tahan banting. Kadang juga dia yang ikutan “ramai” dengan membawa segambreng data sebagai amunisi untuk “bertempur”. Jadi jangan harap bisa keseleo jika berdebat dengannya 😉

Banyak tulisan yang beberapa kali reshare, jadinya saya agak-agak hafal juga ini tulisan tentang apa, beberapa bab saya skip karena udah sering baca. Selain itu, tulisannya cukup aplikatif, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bagi yang merasa sepaham. Tapiii, karena sering baca reshare itulah, saya merasa ada bagian yang hilang dalam membaca tulisan dalam bentuk buku ini. Hilangnya bagian emoticon dalam berbagai pose yang memang mengurangi esensi keseriusan dari tulisan-tulisannya. Jihan yang serius yang melahap banyak buku, yang harus menulis banyak hal yang menarik minatnya, sebagai profesi, supaya bisa menabung manfaat di masa tuanya nanti ☺

Cerita tentang hidupnya lengkap, mulai dari masa kecilnya sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara, sekolah, bekerja, menikah, hingga kemudian bermukim di negeri orang. Kisah masing-masing keluarga itu memang unik, tak pernah ada yang sama satu sama lain. Bahkan menurutnya, dengan jumlah keluarga banyak, dia tak perlu sibuk mencari inspirasi dari luar, cukup banyak belajar berbagai soal kehidupan dari orang-orang rumah. Bab For Making Us A Fighter contohnya, tentang bagaimana si adik perempuan berjuang hingga tiga kali kesempatan demi lolos UMPTN. Tentu itu susah sekali, berusaha bangkit di antara sekian komentar nyinyir yang meremehkan kemampuan kita, tapi dia bisa. Forgive others. Not because they deserve forgiveness. But because you deserve peace. (hal 77).

Ibu adalah salah satu sosok yang berpengaruh dalam hidupnya. Ibu yang harus berjuang membesarkan anak-anak sendirian, setelah sang ayah meninggal ketika Jihan baru lulus SD. Bapaknya meninggalkan tujuh orang anak, dengan Jihan sebagai anak kelima dan juga anak perempuan sulung. Meski mamanya dinikahkan di usia muda, sebelum 20, di mana anak perempuan banyak mengalami masa denial dan processing tanpa henti, tapi tidak bagi mamanya Jihan.

“Kau tinggalkan suamimu? Berdosa sekali itu nak.” (hal 70). Susah senang ditanggung sama-sama, nak. Begitulah kalau sudah menikah. Dihadapi, jangan lari.” (hal 71).

Tangguh sekali ya wanita jaman lampau, punya banyak anak, ditinggal suami, berjuang membesarkan ketujuh orang anaknya hingga berhasil.

Kompleks sekali ketika harus membahas buku ini soal apa. Meski disatukan dalam benang merah dengan tema how travelling (harusnya one l ya, hehehe) inspires you, banyak bab yang harusnya dijadikan tema tersendiri dalam buku yang lain. Saya agak kurang paham korelasinya, mulai dari bab 20, We do and we don’t, yang membahas soal Pandawa. Lalu di bab 33 yang membahas soal Sukarno hingga bab terakhir soal olahraga.

Isinya tetap bagus kok, khas Jihan yang berusaha membahas yang berat dengan bahasa gaul yang enak dibaca. Sayangnya, melihat bab-bab sebelumnya bercerita soal kehidupan dan inspirasinya, jadi terasa njomplang ya. Sebagai blog memang tak masalah, karena ada pilihan tema yang bisa diklik sesuai dengan keinginan pembaca. Dia menulis banyak juga kok soal politik, jadi saya kira itu bisa dikumpulin jadi satu, tulisan soal agama juga bisa jadi satu, biar enggak terlalu njomplang.

Satu quote penting yang selalu ingat dari ibu berputra dua ini adalah “madhzab” passion first, money will follow. Sepak terjangnya di dunia tulis menulis dimulai dari kegemaran, keseharian, memenangkan berbagai lomba menulis, mencoba penerbitan indie, hingga kemudian mendapatkan penawaran menerbitkan buku. Menetap di beberapa negara, membuatnya memahami berbagai perbedaan antar negara, serta bagaimana merawat arti toleransi.

Banyak pelajaran penting seperti harus ikut suami kemanapun, banyaklah bergaul dengan lingkungan sekitar seperti apapun mereka, hingga soal cinta tanah air yang akan dipegang di manapun. Sebagian di antaranya pastinya berat, baik di ongkos dan maupun berat di hati. Ketemu orang atau tenaga kerja Indonesia adalah satu hal yang menyenangkannya. Ah, berasa ditampar lagi, kenapa masih kita-kita masih di sini-sini (Indonesia) aja ya… 😂

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s