Dracula, Sang Jagal

Judul buku: Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
Penulis: Hyphatia Cneajna
Penerbit: Navila, 2013
Tebal: 190 halaman

Vlad Tsepes III atau Dracula bukan diilhami dari kisah Bram Stoker. Dracula adalah adalah salah satu panglima Perang Salib yang membantai ratusan ribu umat Islam di Wallachia.

Menurut penelitian, Dracula adalah seorang psikopat yang senang melihat genangan darah dan teriakan korban yang kesakitan.

Di masa kecilnya, dia suka menyiksa hewan kecil seperti tikus, lalu menyulanya dengan cara menusukkan kayu berujung runcing dari anus hingga tembus ke perut. Itu hanya salah satu saja di antara sejumlah teknik penyiksaan yang dilakukannya pada tuan tanah yang membangkang dan penduduk yang menganut agama Islam.

Konon, kekejaman Dracula ini disembunyikan barat, karena dia berperan besar dalam Perang Salib. Perang inilah yang menjadi titik balik menurunnya kemajuan Islam dan mulai geliatnya budaya barat. Di buku Kejayaan Khalifah, Benson Bobrick, menyatakan bahwa barat seharusnya berterima kasih kepada Islam yang menjadi inisiator dari banyak kebudayaan dunia, seperti arsitektur, matematika, bahasa, dll. Namun banyak bukti sejarah yang dihancurkan dalam perang ini, sementara dominasi dan dogma dari bangsa barat yang mengedepan, menumbuhkan asumsi bersama bahwa merekalah yang lebih dahulu beradab dan berpengetahuan. Padahal, saat bangsawan Eropa masih buta huruf, banyak anak kecil Turki yang sudah mahir baca tulis ☺

Mari (berusaha) menerima itu semua dengan lapang dada, itu bagian dari sejarah. Mari bangkit kembali dengan intelegensi. Umat Islam saat ini seperti buih, banyak dalam hal jumlah tapi tak cukup ‘bermuatan’, sehingga rentan adu domba. Kapan umat Islam bisa meraih kejayaannya kembali, jika tak berkenan memahami pentingnya perintah pertama di Alquran, iqra-bacalah. Kemajuan suatu peradaban dimulai dengan apik saat mereka memutuskan untuk bukan lagi bertarung dengan pedang, tapi dengan pena ☺

Melihat penampakan buku, saya langsung kecewa sebenarnya. Belinya keburu, rebutan online, tak sempat googling sinopsisnya. Ratingnya di goodreads lumayan, tak ada yang baru, agak provokatif, tapi cukup menambah pengetahuan 😐

Daftar kekecewaan saya antara lain:
Pertama, buku setebal kurang dari 200 halaman untuk cerita sejarah, errr… Sebuah novel yang serius dengan plot yang penuh rencana, baru terasa gregetnya awal di halaman 200-300an, baru deh bisa mengikuti jalinan cerita.

Kedua, pilihan font yang agak besar, agak renggang, menunjukkan kurang mendalam dan kurang detailnya pembahasan.

Ketiga, tak ada biodata penulis sama sekali 😕 Informasi utama hanya berupa nama penulis, yaitu Hyphatia Cneajna. Di dalam buku, Cneajna adalah nama istri Dracula berkebangsaan Turki, saat Dracula masih memeluk agama Islam. Apakah ini semacam diary dari yang bersangkutan? Sayangnya kisah di dalamnya tidak menyiratkan demikian.

Keempat, banyak bagian diulang dan modifikasi sana sini, sehingga 190 halaman itu sudah maksimal, sebenarnya hanya sekitar 160-170an.

Jika anda berniat baca mendalam, mending buku fisik aja, yang akurasi informasi bisa dipertanggungjawabkan dan deskripsinya lebih detail. Wait, dengan catatan, pahami juga latar belakang penulisnya ya ;). Jika mencari tentang Islam, cari penulis nonmuslim. Jika mencari tentang Kristen, cari penulis muslim atau lainnya. Semacam itulah, dari banyak sudut pandang, supaya banyak pertimbangan dan tidak gegabah menilai.

Bagaimana, berkenan memulai dan membuat bukunya? 😉

–>

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s