Mereka Juga Bisa Setara

Judul Buku: Shafa, Saatnya Tuna Rungu Bicara
Penulis: Eimond Esya
Penyunting: Royke Muhammad Rozak
Penerbit: Memoira Publisher, Bandung, cetakan kedua, Juni 2013
Tebal :251 halaman

Bagaimana saya menemukan buku yang tak lagi beredar di pasaran ini, rasanya seperti ketiban anugerah tak terduga. Sekitar 2-3 tahun lalu, saya sempat mengenal sosok Fajar Bon Bon via online, seorang pemerhati anak kebutuhan khusus. Keponakan pak Fajar adalah seorang penyandang tuna rungu. Pak Fajar ini hanya sedikit menceritakan perihal kemajuan Shafa, seorang penyandang tuna rungu tingkat berat (profound), namun bisa bicara dengan baik melalui bantuan ABD (Alat Bantu Dengar). Saya tak tahu jika sudah ada buku mengenai Shafa, yang terbit sejak tahun 2009, tahun di mana anak saya lahir. Hingga suatu hari terdampar di sebuah status seseorang, ada nama Eimond Esya yang unik dan kemudian saya ubek-ubek profilnya.

Ternyata beliau ini yang menulis bukunya ibu Khoriyatul Jannah tentang Shafa. Saya sempat juga baca pengalaman Shafa melalui internet, namun tak sedetail di buku tentunya.

Selalu ada ibu-ibu menyebalkan di balik anak-anak yang hebat, begitulah kiranya. Dua kali membaca buku tentang tuna rungu, pertama tentang CI (cochlea implant) dan kini tentang ABD, ada benang merah berupa kerasnya usaha ibu itu begitu nampak menyebalkan bagi yang melihatnya. Namun saat kita melihat hasilnya, itu semua memang tak sia-sia.

Buku ini membuktikan bahwa kerja keras seorang ibu bisa mematahkan teori apapun. Semisal, bahwa jika tak segera dilakukan intervensi terapi, maka anak tak akan dapat bicara. Jika tak dimulai maksimal di usia 3.5 tahun memakai ABD, maka anak akan kesulitan untuk bicara. ABD harus dua, jika tidak, maka tidak maksimal. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa anak tuna rungu harus bersekolah di SLB karena mereka tak bisa bicara. Selain kerja keras, jangan pernah lupa untuk bersandar kepada Tuhan, sebagai Sang Pemberi Petunjuk yang akan memberikan kekuatan dalam bentuk yang paling sesuai dengan kebutuhan kita.

Potensi kegagalan itu ada pada setiap jalan yang ditempuh, namun itu bukan harga mati. Shafa berjuang dengan satu alat (satu telinga), di usia 4 tahun, sebelum akhirnya mampu membeli alat lain untuk melengkapi kemampuan komunikasinya. Shafa pindah sekolah beberapa kali sebelum akhirnya memilih berjuang menyesuaikan diri di sekolah umum. Masalah bully juga akan selalu terjadi, namun juga akan diimbangi dengan menemukan banyak anak berhati malaikat. Nah, sejauh mana orang tua berani mengambil resiko untuk mendapatkan hasil yang inginkan, karena kita tak pernah tahu hadiah apa yang disiapkan Tuhan untuk semua usaha kita ☺

Ibu Khori juga mengusahakan pengobatan alternative, yang dianggap akan mampu membantu Shafa untuk bicara. Siapa sih yang tidak? 😉 Saya kira semua orang tua akan menempuh jalan apa saja, yang tak logis sekalipun, demi kebaikan anaknya. Ibu Khori mengunakan naluri alaminya sebagai seorang ibu untuk memilih tindakan yang tepat dan terbaik bagi Shafa. Di samping itu, faktor keluarga besar dari pihak beliau yang begitu mendukung semua usahanya. Saya ikut merasakan senangnya ketika semua paman bibinya turun tangan membantu Shafa bicara. Caranya antara lain memperkenalkan diri menyorongkan mulut membentuk nama mereka, dan ikut “memaksa” agar Shafa mau berbicara. Bahkan ada bibi yang selalu pura-pura mati agar Shafa mau berinisatif memanggil namanya. Wow, ini keluarga yang hebat, yang benar-benar menjalani takdir dari Tuhan dengan tertatih namun tetap berusaha melangkah.

Keputusan untuk kemudian pindah sekolah yang mengorbankan pekerjaan ayahnya menjadi tak mudah, belum lagi masih harus menemui kenyataan bahwa sekolah yang mereka impikan itu pindah, lalu mahal, hingga dalam kenyataan tak sesuai dengan harapan. Sebenarnya sekolah yang dipilih sudah cukup bagus (Santi Rama, Jakarta), karena saya juga mendengar banyak sekali lulusan dari sana yang mampu bergaul di sekolah umum dan mampu berbicara seperti kita semua, bahkan tanpa ABD! Namun yang menjadi masalah adalah, itu butuh proses cukup panjang jika hanya mengandalkan treatment dari sekolah. Belum lagi lingkungan pergaulan anak yang kurang lebih sama, bisa mempengaruhi kebiasaan anak, meski juga ada pertimbangan kemampuan anak.

Selain faktor peran keluarga yang begitu besar, Shafa juga dipertemukan dengan terapis yang tepat (ibu Dewi) yang membantu mereka belajar untuk berbicara (hal 121-132). Saya tidak tahu apakah ibu menemui masalah seperti misal terapis yang kurang support terhadap usaha beliau. Namun jika memang tidak diceritakan itu poin yang sangat bagus, karena memotivasi banyak pembacanya untuk bisa berusaha lebih.

Salut dengan ibu Khori yang berhati dan berkemauan baja, juga pada bapak Royke yang bersedia menanggung apa saja demi anak. Dalam kenyataan, banyak sekali ibu saja yang turun tangan, sedangkan bapak tak mau tahu. Ada juga yang berkenan membiayainya, namun ada juga yang tak mau karena menganggap itu sebagai kesalahan pihak ibu.

Buku ini tepat untuk memotivasi orang tua yang memiliki anak tuna rungu dengan kemampuan ekonomi menengah, dalam artian mampu membeli dan menanggung biaya perawatan ABD. Kondisi ekonomi bukan lagi halangan bagi ABK untuk maju.

Saat ini, Shafa sudah menyelesaikan pendidikan kedokteran dan akan menjadi salah satu dokter umum yang tuna rungu ☺. Sebagai orang tua dari anak yang juga tuna rungu, saya ikut bangga dan bahagia. Semoga akan ada banyak Shafa lain yang bergabung dengan komunitas umum, menunjukkan bahwa berkebutuhan khusus bukanlah halangan untuk menjadi sejajar, meraih cita-cita apapun yang mereka inginkan seperti halnya anak normal ☺

–>

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s