Siksaan Ambisi

Judul buku: Best Rival
Penulis: Naima Knisa
Editor: Mita M. Supardi
Proofreader: Tesara Rafiantika
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain kover: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media, 2014
Tebal: 233 hal

Persaingan terjadi antara Kuncoro dan Estu. Awalnya mereka saling iri hati atas kelebihan masing-masing, namun kerja keras yang membedakan hasilnya. Lambat laun, hanya Kuncorolah yang terus memelihara amarah dan dendamnya terhadap Estu, yang dianggap merebut kebahagiaannya.

Kuncoro adalah anak abdi dalem yang berteman dengan Estu, anak bangsawan kraton. Estu yang membumi, lebih menyukai berada di rumah simbok dan bapak yang sederhana, orangtua Kuncoro. 

Di sana, mereka berdua sering mengikuti simbok memasak dan bereksperimen. Sementara Kuncoro selalu diarahkan untuk menjadi abdi dalem, demi memahami makna pengabdian. Namun Kuncoro menginginkan hidup yang lebih baik, yang tak hanya nrimo dengan makan tempe gembus dan gaji kurang dari seratus ribu sebulan. Dia ingin hidup lebih mapan.
Saat ujian penerimaan beasiswa sekolah memasak luar negeri, nama Estu muncul di nomor kelima, sedangkan Kuncoro keenam, dan hanya lima orang yang berhak berangkat ke Perancis. Sejak saat itulah Kuncoro marah dan mendendam, menganggap Estu selalu membayangi langkahnya. Kondisi itu semakin memburuk saat kepulangan Estu ke tanah air. Kepulangan itu menghasilkan sebuah buku perdana tentang sepak terjangnya di dunia kuliner, hingga kemudian memajukan hotel dan restoran milik keluarganya. Kehadiran Estu bersama bukunya yang unik dan masakannya yang lezat, menyedot antusiasme pengunjung yang begitu tinggi. Sementara restoran tempat Kuncoro bekerja, semakin sepi di tahun keempat dan terancam gulung tikar.

Awalnya Kuncoro meniru cara memasak, tapi tidak berhasil. Dia mengira bahwa Estu menggunakan kekuatan berkah mistis dari Nyai Gandarasa, salah satu leluhurnya, untuk citarasa masakannya. Padahal Kuncoro keliru.

“Kamu tahu, Dis? Nyai Gandarasa memang ada, aku tidak pernah mengenalnya atau mencoba berhubungan dengannya yang telah berbeda alam kehdupan. Tetapi, aku memiliki semangatnya, memiliki emosi dalam memasak dan keinginan untuk menciptakan yang terbaik,” suara Estu terdengar berapi-api.Dan itulah warisan yang diberikannya!” seru Estu… (hal 138)

Kuncoro begitu berniat menghancurkan bisnis keluarga Estu, dengan melakukan serangkaian tindakan di luar nalar, seperti mengorbankan Gendis, pacarnya, untuk mematai-matai Estu demi mendapatkan rahasia kesuksesannya. Kuncoro juga menyebarkan fitnah keracunan makanan dari restoran milik Estu, tidak terbukti, dan kesalahannya masih dimaafkan oleh Estu. Mereka juga sempat terlibat baku hantam yang menewaskan bapaknya Kuncoro, akibat salah sasaran dan gelap mata. Kuncoro harus mendekam di penjara akibat kesalahannya.

Apakah penjara yang menyiksa akan mematikan semangat dendam Kuncoro kepada Estu?

Saya yakin ada banyak orang seperti Kuncoro, yang kata pepatah Jawa, diumbah ora teles, dipepe ora garing. Kemauannya sangat keras, sehingga diapa-apakan supaya melunak pun, tak akan mempan. Andai saja mereka paham bahwa ambisi yang berlebihan itu hanya akan menyengsarakan dirinya sendiri.

Chef Ginanjar, seorang seniornya, banyak memberinya nasehat.
“Bekerja itu butuh ikhlas, Kun. Tidak perlu sama untuk menjadi hebat, tidak perlu mengikuti orang untuk menjadi pemenang! Kamu hanya butuh ini…” Chef Ginanjar menunjuk dadanya. (hal 227)

“Memasak itu seperti seni, kita sebagai seniman selalu memiliki ciri khas masing-masing. Seperti seorang pelukis, cat air kita bermerk sama, kuas kita juga, bahkan cara menggoreskannya di atas kanvas juga sama! Tapi, apa kamu pernah melihat lukisan yang sama persis?” tanya Chef Ginanjar, suaranya begitu meluap-luap. (hal 228)

Tak kurang pula nasehat dari bapak dan simbok.
“Membanggakan orang tua itu mudah, Le!” suara bapak membuat Kuncoro melepaskan pelukan simbok.
“Tidak perlu kamu sama dengan orang lain. Cukup jadi dirimu sendiri…” Perkataan bapak itu disetujui oleh simbok… (hal 154)

Gendis yang begitu mencintainya pun, tak berkenan bersama karena begitu keras kepala dan ambisiusnya Kuncoro. Betapa banyak yang dikorbankan Kuncoro demi memenuhi ambisinya mengalahkan Estu. Bapaknya tewas di tangannya sendiri, kekasih hatinya pergi, kehilangan pekerjaan bergengsinya sebagai chef di restoran besar, hingga harus menghuni hotel prodeo yang sempit dan lembab selama beberapa tahun. Namun ambisi itu masih juga belum terhenti.

Saya salut dengan penulis yang berusaha mengangkat budaya Jawa sebagai latar novelnya. Mengenalkan bagaimana detail Kasunanan Surakarta, pengabdian para abdi dalem yang tak bisa disetarakan dengan uang, pakaian adat seperti beskap dan nyamping. Novel ini seperti mengingatkan, bahwa ada aneka aset budaya yang harus kita jaga kelestariannya, yang juga bisa kita jadikan latar pengaya dalam cerita.

Ada beberapa typo, namun tak mengurangi esensi cerita. Hanya ada sedikit bagian njomplang soal Honda Jazz. Meski masih beredar, mobil ini termasuk golongan biasa untuk kalangan berada. Kemungkinan bisa ditangkap adalah memang tak mengikuti perkembangan mobil terbaru, atau memang berusaha menampilkan kesederhanaan. Selebihnya, novel yang cukup layak dinikmati sekali baca, memberi banyak pelajaran, dan sekaligus sukses membuat orang geregetan dengan tokoh bernama Kuncoro ini.

Advertisements

Published by

daniar

My nickname is Daniar, just to make me comfortable in writing. I love reading, writing, and dreaming. Enjoy these adventurous minds :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s