Move On, Krasivaya

Judul buku: Between Shades of Gray
Penulis: Ruta Sepetys
Penerbit: Noura Books, 2014
Tebal: 386 hal

Tokoh sentralnya bernama Lina. Gadis berusia 16 tahun yang memiliki kemampuan menggambar yang baik dan imajinatif, mengidolakan Edvard Munch. Ayahnya, Kostas Vilkas, dideportasi dari Lithuania, saat Uni Soviet (NKVD) mendudukinya. Bersama ibunya, Elena dan adiknya, Jonas, Lina merasakan pedihnya hidup di kamp pengungsi. Mandi bersama, makan bubur berwarna kelabu, kerja paksa dengan upah roti seberat 300 gram.

Keadaan para tahanan perang ini makin mengenaskan saat area ungsi dipindahkan ke Siberia yang begitu dingin.

Satu per satu orang meninggal dunia, sebagian sanggup dikubur layak, sebagian lagi menjadi santapan para hewan liar. Keadaan mulai menunjukkan titik terang saat dr Samodurov tiba. Dokter ini melakukan inspeksi atas para tahanan NKVD, memberikan laporan yang baik agar NKVD tidak disidang oleh pengadilan dunia.

Penulis adalah anak dari pengungsi Lithuania, negara yang pernah hilang dari peta akibat hegemoni Uni Soviet. Lithunia, Latvia, dan Estonia, memiliki masa lalu yang begitu suram saat Stalin berkuasa. Saat para pengungsi Lithuania kembali ke tanah air, orang-orang Uni Soviet menggunakan identitas mereka (sesuai KTP) dan menempati rumah mereka.

Sakit hati karena pembunuhan identitas ini dilampiaskan berupa karya sastra, film, pahat, komik. Sepetys, si penulis, menyatakan bahwa cerita ini fiksi, tapi dr Samodurov adalah nyata.

Ceritanya lugas dari awal, tak ada narasi yang menjebak. Sudah bisa diperkirakan sejak beberapa bab awal, bahwa Andrius akan bersama dengan Lina, Kostas yang akan menjadi kenangan, Elena yang tak berumur panjang, juga lelaki botak yang temperamental dan mencurigakan. Ternyata dia seorang Yahudi, mata-mata yang akhirnya menyesali hasil perbuatannya.

Kejam itu relatif ya, tapi penggambaran kekejaman NKVD di sini masih ‘beradab’. Masih ‘kejam’ gaya Lan Fang mendeskripsikan adegan pemerkosaan di novelnya tentang Kembang Jepun. Tak ada kalimat yang terlalu liar atau sadis yang membuat saya berhenti sejenak menghela napas, mengempatikan pedihnya menjadi tahanan tanpa peradilan.

Bab-babnya dibuat cukup pendek, hanya tiga lembar per bab, dengan cerita yang cukup ringan. Yang membuat novel ini kaya makna adalah, dia menceritakan sejarah kelam. Terbayanglah film Life is Beautiful. Padahal Yahudi bukanlah satu-satunya ras yang mengalami genosida. Di negara sendiri kita tentu tahu kisah amukan Westerling di Sulawesi yang menewaskan puluhan ribu orang, pembantaian kaum komunis demi pembersihan menuju pemerintahan baru yang masih menyisakan luka batin hingga kini. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki. Pembantaian ribuan muslim di Bosnia oleh tentara Serbia. Banyak. Pembunuhan selalu jadi bagian penting dari sebuah perebutan kekuasaan 😥

Di novel ini, kurang sakit apa rasanya saat kita kembali ke rumah ada yang memakai nama kita, tidur di kasur yang pernah kita rebahi, di rumah yang pernah kita tempati. Tak hanya itu, dalam beberapa tahun, peta tak memuat yang namanya Lithuania, Estonia dan Latvia. Seperti halnya Radiator Spring hilang dari peta, lalu muncul kembali atas jasa Lightning McQueen 😅

Tapi hebatnya, mereka memilih move on, memaafkan, berkarya, demi mengabarkan pada dunia bahwa mereka pernah ada. Padahal bisa juga mereka memilih baper mengabarkan pada dunia seperti halnya kaum Yahudi dan kamp konsentrasi Auswitch.

Namun hebatnya, Yahudi tak pernah kehabisan cara untuk menarik perhatian dunia. Mereka berhasil move on juga dari genosida, almost unbeatable, di banyak bidang yang populer seperti hiburan, ekonomi perbankan, dan politik.

Jepang, yang koyak bolak balik, oleh perang, gempa, bom atom, juga melakukan salto bolak balik, move on.

Indonesia, mmm,…

Kita masih ribut soal pembasmian komunis, tapi tak paham benar apa ajaran intinya, apa bedanya dengan atheis. Beginilah, hasil doktrinasi Orba. Juga soal sektor perdagangan yang banyak dikuasai oleh nonpri. Bukannya memperbaiki kualitas agar bisa bersaing lebih adil, orang-orang nonpri malah dibantai dan dilukai mentalnya. Tahu ada maling motor, saling rebutan membabakbelurkan. Ada masalah beda visi presiden, foto dan berita hoax, pokoknya berdebat saja dulu, urusan realitas dan kebenaran belakangan aja 😯

Kapan kita move on dengan anggun dan bermartabat? Bukankah lebih baik jika diwujudkan melalui karya seni? Sayangnya, pendidikan masih jalan di tempat, tak mewadahi dan menumbuhkan jiwa seni. Masih melanjutkan sistem doktrinasi Orba.

Maka, belajar dari kisah Lithuania ini, bacalah banyak buku dan milikilah karya seni. Itu adalah salah jalan sederhana untuk menapak menjadi lebih beradab dan bermartabat. Bagaimana, siap ya? ☺

Kita juga masih bisa menjadi krasivaya*

Jadi, buku apa yang mau anda baca hari ini? 😉

*krasivaya: kecantikan yang disertai kekuatan.

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s