Antara Janji Dan Waktu

Judul buku : Jam Beker Raksasa dan 9 dongeng seru lainnya
Penulis : Dian Kristiani
Ilustrasi : Hanny Alexandra, Magenta Studio, InnerChild Studio, Indra Bayu, Arine
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer, 2013
Tebal : 103 hal

Buku ini terdiri atas 10 dongeng, dengan ilustrasi dari beberapa orang dan studio yang berbeda, jadi sangat variatif. Judulnya Sapu Terbang Tercepat, Masakan Ibu Dido, Putri Tinka Tak Punya Teman, Penghuni Negeri Pelangi, Jam Beker Raksaasa, Ulah Hantu Kecil, Hilangnya Suara Para Peri, Teko Usang di Dapur Istana, Tak Harus Es Krim, Hari Buruk Tania.

Favorit anak saya, tentu saja Jam Beker Raksasa, yang dalam sehari bisa mengulang 2-3 kali.

Kadang saya mesti kasi alasan ngacir pergi biar ga disuruh cerita ituuu terus. Padahal tetep aja, namanya anak-anak, hari ini tak berhasil, dia masih bisa memohon besok. Bahkan saat resensi ini ditulis pun saya baru saja menyelesaikan bercerita untuk yang kedua kalinya dalam sehari. Berasa siap-siap ikut lomba mendongeng saja.

Sebenarnya saya udah berusaha untuk membuat dongeng sendiri tentang jam, yaitu tentang para jam yang saling curhat (mengambil ide setting ala dongeng di buku mbak Dian sebelumnya, berupa kumdong bersama penulis Jatim lainnya). Konsepnya masih sama, tentang tepat waktu. Sayangnya, belum sempat diulang, Uma sudah menemukan dongeng yang bisa dibuat menodong emaknya. Selain itu karakternya variatif, jadi saya bisa memainkan suara genit untuk Nyonya Swan, suara tua bawel untuk pak Tompi, suara besar dan manja untuk raksasa kecil, dan suara standar untuk Pedro yang suka terlambat. Ceritanya bagaimana? Hehehe, baca aja sendiri ya. Anak saya udah mulai hafal jalan ceritanya, jadi sekali waktu saya tantang dia untuk cerita dengan menunjuk gambarnya.

Cerita favorit selanjutnya adalah Ulah Hantu kecil, Masakan Ibu Dido, Tak Harus Es Krim, itu sih rating utama.

Seperti halnya anak kecil lainnya yang obsessed with ghosts, ulah hantu kecil ini cukup mewakili rasa penasarannya tentang hantu, melalui sosok yang diilustrasikan di buku ini, yaitu ga punya kaki jadi bisa terbang, tak punya mata, hidung, telinga, gigi, seperti manusia. Ide ceritanya sih, masih agak rumit untuknya, dia belum begitu nyampe, tapi dia senang sekali dengan bagian hantu kecil menjadi manusia. Kalo saya lagi menerangkan apa konsep budi pekertinya, saya mesti ngatur kalimat pendek yang efektif kalo ga mau keduluan dia ngomong.

Masakan Ibu Dido, karena Uma suka sekali hampir semua makanan yang saya buatkan untuknya, bahkan kadang suka ngasi tugas buat saya untuk membuat kue menarik yang ada di majalah. Syukurlah, tak pernah berhasil, jadi dia ngasi tugas lain yang lebih ringan ;P. Selain itu, dia agak melankolis, hehehe. Hubungannya, Uma suka makan dan ga mau bikin orang sedih dengan kesalahannya. Kalau saya bergaya mewek menirukan ibu Dido yang sedih, Uma akan ikut mencebik lalu memeluk saya.

Tak Harus Es Krim, tentang kanguru dan gajah yang ingin makan es krim di siang hari yang panas, tapi harus mengantri. Ini satu-satunya yang menggunakan tokoh binatang, yang cukup familiar untuknya. Dia juga suka es krim, jadi kloplah. Kalau saya pribadi, senang melihat ekspresi kedua bintang ini yang digambarkan dengan apik. Ekspresi senang si kanguru saat bertemu mobil es krim, hingga ekspresi marahnya saat kehabisan es krim. Ekspresi si gajah gendut yang kelelahan mengejarnya, hingga ekspresi ketakutannya menanggapi amarah kanguru yang menuruti ide si gajah.

Teko Usang di Dapur Istana, menempati peringkat selanjutnya. Teko tua yang berjasa, tapi dilupakan oleh koki istana yang akan menggantinya dengan teko yang baru.

Berhubung anak-anak, jadi ilustrasi sangat berpengaruh untuk pilihan cerita yang diinginkannya. Yang tak terlalu favorit, tentang negeri pelangi dan hilangnya suara para peri. Ilustrasinya bagus kok, tapi karakter gambarnya agak njomplang dengan ilustrasi lainnya yang lebih “mulus”.

Di serial dongeng ini, anak akan belajar untuk belajar menepati janji, tepat waktu, menghargai orang lain, mengantri, dan juga menggunakan kata sakti “tolong” dan “terima kasih” dengan baik.

Terima kasih untuk mbak Dian Kristiani yang sudah memberi banyak bahan untuk bercerita, tinggal ngisi suara dan bersabar akan pengulangan 😉

–>

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s