Menulis: Sebuah Bisnis, Sebuah Pekerjaan

Judul buku: Momwriter’s Diary
Penulis : Dian Kristiani
Penyunting : Marina Ariyani
Desain dan tata letak : Helen Lie
Ilustrasi cover dan komik : Indra Bayu
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer, 2014
Tebal : 139 hal

Kalau mau menjadi penulis sukses, tidak ada cara lain selain menulis, menulis, dan terus menulis (hal 27)

Buku yang ringan dalam jumlah halaman, tapi materinya padat, karena isinya pengalaman semua, hampir tak ada kata-kata yang mubadzir. Ditulis dengan bahasa ringan ala kak Dian yang kadang menyelipkan kalimat kocak sebagai penyegar suasana.

Jika anda ingin menjadi penulis, siap-siap kena “tamparan” kak Dian di buku ini. Banyak kalimat yang berisi tentang kenyataan mak jleb. Mulai dari soal menulis sukarela, menjadikan keluarga sebagai alasan ga bisa atur waktu, konflik dengan editor dan penerbit, cuap-cuap di media social, hingga soal jumowo dan legowo. Lengkap!

Awalnya sebel juga (soalnya kena “tampar” melulu, hehehe…), tapi

maksudnya baik banget, menyadarkan beberapa hal penting soal pekerjaan menulis. Khas ala kak Dian yang tak basa basi tapi tetap baik hati, hehehe…

Writing is about art and passion, namun jika ingin melakukannya secara professional, kompromikan beberapa hal di sekitar kita dengan sebaik-baiknya, selayaknya kita bekerja secara formal. Bahkan obrolanmu bisa berbunyi gemerincing harta karun ketika kau tahu “tempat persembunyian” dan kadar karatnya.

Jika kita bekerja di kantor, kita tinggal mematuhi peraturan yang ada. Namun jika kita bekerja sendiri sebagai seorang penulis (yang berniat professional), maka kita juga harus memiliki peraturan sendiri yang harus kita patuhi. Aturan ini sifatnya fleksibel, menyesuaikan dengan kebutuhan diri sendiri. Semisal sehari maksimal dua jam menulis (hal 41). Media social, sebagai bagian yang tak terlepaskan dari masa kini, harus benar-benar diatur waktunya supaya tak sia-sia. Bagi kak Dian, selain sebagai sarana relasi, promosi, ide; media social juga sebagai hiburan yang akan dia jamah setelah setelah target menulisnya tercapai.

Keluarga, baik yang anaknya banyak ataupun belum memiliki anak, jangan sampai dijadikan alasan kita ga bisa mengatur waktu ya. Ada lho, seorang ibu yang beranak 6, yang selalu bikin buku tiap mau lahiran dan beberapa anaknya mulai mengikuti jejak beliau sebagai penulis. Itu soal kemauan apakah kita bersedia mengatur waktu sebaik-baiknya, untuk waktu utama bagi keluarga, sekaligus bersosialisasi dengan lingkungan, sebagai manusia normal tentunya (hal 38-41).

Sebagai sebuah bisnis, maka menulis pun membutuhkan modal. Modal yang dibutuhkan itu antara lain buku-buku yang bagus, demi menghasilkan karya-karya yang bermutu pula. Meski banyak membaca buku, tapi jangan jadi plagiator (hal 11-14). Modal itu juga berupa majalah dan koran, tujuannya mengetahui genre tulisan, sehingga kita bisa mengirimkan hasil karya kita tepat sasaran. Nah, jika nama kita mulai dikenal, buku kita udah mulai banyak dan laris, jangan menjadi jumawa (hal 58), misalnya tak mau terima kritik, selalu merasa lebih keren daripada yang lain. Semua bidang kehidupan terus berkembang, maka kita juga harus terus memosisikan diri sebagai pembelajar.

Ada kalanya, seperti halnya bisnis yang naik turun, jika tak menang dalam suatu lomba atau tulisan sering ditolak oleh beberapa penerbit misalnya, jangan sebarkan aura negatif, yang suka menebarkan rasa marah, kecewa, iri, kesal, dan tidak puas (hal 32). Kenapa harus bersabar dengan semua jalan berliku itu, kak Dian punya banyak cerita bagus soal bersabar, pasrah, nrimo. Misalnya bagaimana berurusan dengan editor yang mendadak resign tanpa kabar, SPP tak terdaftar, menerima status PHP dari penerbit, dan sebagainya. Kak Dian dengan bijak menganjurkan, jangan sampai kita membuka masalah itu di media social, karena akan menyakiti banyak pihak akibat salah paham yang sebenarnya bisa diselesaikan baik-baik.

Pokoknya setelah membaca buku ini langsung buruan pengen menulis dan mengirim kemana-mana. Eh, sudah sih, tapi belum banyak yang bertemu jodohnya. Jadi mulailah menulis dan sampaikan kepada dunia majalah dan penerbitan. Tunggulah hasilnya. Toh sekarang udah gak harus pake prangko dan jalan ke kantor pos kan, hanya butuh kuota internet dan niat yang kuat.

Kalau boleh menerima kritikan, bab penulis jumawa dan penulis aura negative bisa dijadikan satu bab. Mungkin maksud kak Dian, supaya pembaca bisa melahap tiap bab ringan dengan sebaik-baiknya. Berhubung judulnya diary, sebenarnya sih sah-sah aja, kalau ditulis dengan sistematika yang tak terlalu sakleg. Selain itu, “nampar”nya banyak banget, coba deh baca di bagian tanya jawab di halaman-halaman akhir. Hehehe… Last but not least, terima kasih udah berbagi dengan bahasa yang ringan dan menancap, Semoga makin banyak yang mengikuti jejak kak Dian, mem-profesional-kan diri sebagai penulis, sehingga dunia kepenulisan di Indonesia juga berkembang lebih baik. Amin.

Pinjam gambar buku

–>

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s