Islam Pernah Jaya

Judul buku: Masa Kejayaan Khalifah Harun Al Rasyid
Penulis: Benson Bobrick
Penerbit: Noura Books, 2013
Tebal: 401 hal

Harun adalah seorang khalifah yang mengutamakan intelektualitas. Di masa pemerintahannya, Harun menguasai banyak wilayah dan mengembangkan kebudayaan Islam, didukung oleh kegemarannya akan kisah sastra dan hafalan yang baik pada beberapa nukilan Alquran. Harun sering mengajak para seniman agar bertukar syair dengannya.

Harun memiliki dua anak yang menjadi kandidat penggantinya. Amin dari istri sahnya bernama Zubaidah,

Makmun dari selirnya. Secara silsilah, Amin lebih berhak. Namun Amin tak menyukai dan tak mahir membuat syair, kegemaran ayahnya. Seorang ahli bahasa dimasukkan ke penjara karena menilai buruk syair Amin. Saat dia diminta mendengarkan ulang agar mengatakannya bagus, si ahli lebih memilih masuk penjara lagi. Amin juga sangat hedonis dan memiliki ketertarikan pada kasimnya, meski dia juga memiliki istri dan beberapa selir. Makmun jauh lebih cakap dalam kesenian dan politik. Harun juga lebih condong memilihnya sebagai pengganti. Makmun terbukti cerdas, baik, memuliakan ibu surinya (Zubaidah). Sempat disinggung andaikata Harun dan Makmun bekerjasama, Islam akan semakin tak terkalahkan karena kedua-duanya memiliki selera seni yang baik, intelektualitas tinggi, serta handal dalam pemerintahan.

Wazir atau perdana menteri di masa pemerintahan Harun adalah keluarga Barmak. Sayangnya mereka beda pola. Pada kaum pemberontak semacam Syiah atau suku di Khurasan, Yahya Al Barmak memilih untuk bersikap lunak, dengan tujuan meminimalisir pemberontakan. Sementara Harun yang beraliran Sunni, bersikap keras. Salah, penggal. Persis seperti yang dihikayatkan dalam kisah Abunawas. Saat situasi makin runcing dengan sejumlah intrik, Harun mulai menyingkirkan keluarga Barmak, satu per satu, yang dianggap tak lagi sevisi dengannya. Yahya sekeluarga dipenjara, harta bendanya disita. Anak Yahya, yaitu Ja’far (mengingatkan pada menteri culas di Aladin, padahal Ja’far di sini tak seburuk itu), dipenggal, lalu kepalanya dijadikan pajangan di alun-alun selama bertahun-tahun 😐

Menjelang kematiannya, Harun mengasingkan diri sementara Amin mempersiapkan kenaikan tahta. Secara tak langsung Amin mendukung kematian ayahnya, sementara Makmun tetap mengusahakan agar Harun bertahan. Karena ketidaklihaian Amin dalam pemerintahan dan kendali napsunya yang begitu buruk, Amin dengan mudah diringkus oleh para pendukung Makmun. Makmun lah yang kemudian melanjutkan kejayaan dinasti Abbasiyah.

Benson Bobrick (sepertinya) bukan seorang muslim, bahkan dia salah menuliskan beberapa kutipan ayat dari Alquran. Dalam bab awal, Bobrick menyodorkan fakta dan opini pribadi tentang kelemahan sejumlah budaya Islam, halus sekali. Saya terlanjur salah sangka, namun dia menutupnya dengan sejumlah fakta, begitu banyak sumbangan Islam/Arab pada kebudayaan dunia.

“Warisan Islam terjalin ke dalam kebudayaan Barat dengan cara yang sama rumitnya seperti helai-helai benang yang tersimpul dalam sebuah karpet Persia. Adakah aspek kehidupan yang tidak tersentuh olehnya?”…hal 347

“Di Cordoba, konon, setiap anak laki dan perempuan berusia dua belas bisa membaca dan menulis – di saat para baron dan nyonya di dunia Kristen hampir tak bisa mencoretkan nama mereka.”…hal 356

Kisah tentang bangsa Eropa di saat masih terbelakang, disajikan dengan apik oleh Donna Woolfolk Cross di novelnya yang berjudul Pope Joan.

Soal Abunawas, yang ada Abu Nuwas dan tak mendapat banyak sorotan dalam tulisan Bobrick ini. Abunawas lebih lekat dengan kisah 1001 malam, yang oleh para ahli sejarah, bukanlah rujukan yang shahih untuk mempelajari masa pemerintahan khalifah Harun.

Jika membahas soal Islam dan kemajuannya, ada beberapa skala yang jadi pertimbangan:

Berapa banyak yang menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Islam?

Berapa banyak yang terdidik dan bisa baca tulis Alquran serta menjadikannya sebagai pedoman utama?

Berapa banyak menjalani syariat dengan benar?

Berapa banyak melakukan subsidi silang, dalam artian si kaya membantu si miskin, sehingga masyarakat Islam bisa tumbuh seperkasa di masa lampau?

Berapa banyak yang memahami cara penyelesaian masalah (apapun), dengan mempelajari urutannya (Alquran-hadist-lalu apa) dengan benar?

Berapa banyak yang paham garis besar sejarah Islam?

Belum termasuk kategorisasi liberalis, pluralis, fundamental, modern, dll, yang mengurangi kemurnian esensi istilah Islam itu sendiri. Seperti halnya demokrasi, yang akan mengurangi makna demokrasi, saat ditambahkan ’embel-embel’ terpimpin, Pancasila, liberal, dsb.

Ada yang mengatakan bahwa:

Di negara Islam, banyak Muslim, tapi sedikit Islam.

Di negara non Islam, sedikit Muslim, tapi banyak Islam.

Artinya? Hmm…

Silakan dipahami dengan menjawab beberapa skala di atas 😉

Kesimpulan dari baca buku-buku tentang fakta dan peristiwa adalah selalu sama:

Ayo baca buku lebih banyak lagi!!!

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

One thought on “Islam Pernah Jaya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s