Casual Vacancy: Seandainya Barry Tidak Mati

Judul buku: The Casual Vacancy
Penulis: J.K. Rowling
Penerbit: Qanita, PT Mizan Pustaka, 2012
Tebal: 591 hal

Saya menyelesaikan baca kisah beraroma intrik politik dan sosial ini, selama beberapa bulan . Sebenarnya setelah sampai baca halaman 250an, cukup beberapa hari saja menyelesaikannya, karena sudah paham siapa dan bagaimana karakter masing-masing. Rowling selalu merajut kisahnya dengan penuh kerumitan, jadi bagian mencerna awal selalu agak lama. Ending cerita tak bisa ditebak, dengan seorang core cerita, Barry Fairbrother, yang bahkan sudah meninggal dunia.

Casts

Barry Fairbrother, pria simpatik anggota dewan kota yang meninggal di usia 44 tahun, karena serangan aneurisme. Barry meninggalkan seorang istri, Marry; dan empat orang anak, yaitu Fergus, kembar Niamh dan Siobhan, Declan.

Karakter anggota keluarganya hanya sebagai penggembira, tak terlalu ditonjolkan, tak banyak konflik mencuat.

Pesaing Barry adalah Miles Mollison. Istrinya bernama Samantha, anak mereka adalah Lexie dan Libby. Miles adalah anak dari anggota dewan juga, Howard dan Shirley. Miles punya saudari kandung bernama Patricia, yang tinggal jauh dari mereka (Howard dan Miles).

Colin Wall, pendukung Barry. Istrinya adalah Tessa dan memiliki anak adopsi bernama Stuart Wall (Fats). Fats ini sok bersikap (menurutnya) otentik. Fats tak pernah akur dengan Colin, Tessa berusaha keras mendamaikan kedua bapak anak bukan sedarah ini.

Simon Price, beristri Ruth dan memiliki anak Andrew dan Paul. Sebagian barang di rumahnya adalah hasil curian Simon. Sifat kasarnya sangat menyebalkan. Jika marah, dia akan menyiksa istri dan anak-anaknya. Puncak kemarahannya adalah saat sebuah berita menyebar dari akun The_Ghost_of_Barry_Fairbrother, mengenai aktivitas ilegalnya. Karir politiknya terancam, sehingga Simon sekeluarga berniat pindah rumah.

Parminder dan Vikram, pasangan dokter yang menikah karena dijodohkan. Memiliki empat anak, namun yang menjadi core cerita adalah Sukhvinder. Oleh ibunya dipanggil Jolly. Oleh Gaia, teman baiknya, dia dipanggil Sooks. Sooks menjadi sasaran bully teman-teman karena kulit kelam dan rambut hitam lebatnya. Jolly sering direndahkan di keluarganya karena dianggap paling lemah dalam segala hal dibandingkan saudaranya yang lain. Tiap kali tertekan, dilampiaskannya dengan menyilet lengan sebelah dalamnya. Tak ada yang tahu karena selalu tertutup baju.

Gavin, seorang lajang yang menjalin hubungan dengan Kay Bawden, seorang petugas sosial. Kay pindah ke Pagford demi Gavin, tapi Gavin tak kunjung memberikan ketegasan. Kay memiliki anak dari suami terdahulu, namanya Gaia.

Krystal adalah anak dari Teri Weedon. Krystal memiliki adik bernama Robbie. Teri memakai heroin dan melacurkan diri. Kay yang bertugas memantau Teri, merekomendasikannya ke klinik pecandu Belchapel serta memastikan Robbie rutin menjalani pendidikan usia dini. Klinik ini menjadi salah satu bahan persengketaan antara kubu Howard yang mengusulkan pemusnahannya dan kubu Barry (diwakili Colin) yang berusaha mempertahankannya.

Bagaimana, sudahkah anda bingung? 😉

Seks, Bebal dan Bebas

Bergidik juga membayangkan kehidupan seorang junkies, memiliki beberapa anak yang entah dari hubungan dengan siapa saja. Seperti Teri, ibu dari Krsytal dan Robbie. Krystal dan Robbie, tentu saja, terkontaminasi. Krystal berhubungan bebas dengan Fats, sementara Robbie sudah menunjukkan perilaku seksual dini di sekolahnya. Tak dijelaskan seperti apa, silakan berimajinasi sendiri.

Samantha mengalami titik jenuh hubungannya dengan Miles, antara lain karena konflik tak pernah usai dengan ibu mertua. Dia merasa jatuh cinta dengan anggota boy band, idola anaknya. Dalam kondisi mabuk, Andrew yang jadi pelampiasan. Aduh, 16 tahun versus wanita 40an 😯

Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Simon adalah pelaku utama dan lengkap. Dia selalu siap melakukan kekerasan kapan saja jika kondisi hatinya mengatakan demikian. Kekerasan yang tak hanya berupa fisik, tapi juga verbal, terutama pada anak-anaknya. Andrew masih bisa bertahan, bekerjasama dengan Fats, untuk ‘menyerang’ ayahnya diam-diam. Sementara Paul, disebut Pauline yang banci, hanya bisa diam lalu menjauhi arena.

Teri mengalami kekerasan dan pelecehan seksual di masa kecilnya. Seakan lingkaran setan yang tak berkenan diputusnya, hal yang sama dialami oleh anak-anaknya, Krystal dan Robbie. Masa kecil yang memprihatinkan. Pemerintah yang berkenan membantu pun dianggap angin lalu.

Sukhvinder melakukan kekerasan pada dirinya sendiri, sebuah ekstase pasca hinaan verbal yang acapkali diterimanya dari teman dan keluarganya.

Rokok, Narkoba dan Minuman Keras

Jahat sekali pengaruh narkoba dan minuman keras pada tubuh dan perilaku. Tak ada wejangan normatif di novel ini. Sejumlah perilaku yang kelewat batas, sudah bisa membuat kita menyimpulkan dampaknya. Kulit yang menua dan kurang nutrisi, kemarahan yang tak kenal batas, hingga napsu yang tak terkendali.

Narkoba menjadi salah satu jalan keluar masalah di sini, berujung kematian.

Cinta dan Keluarga

Para abege: Krystal, Andrew, Gaia, Fats, Sukhvinder, Lexie, Libby, Dane, dan beberapa figuran kecil lainnya.

Abege bermasalah kebanyakan karena keluarganya bermasalah. Yang keluarganya penuh konflik, sedang berjuang membentuk karakternya melalui konflik pribadinya. Yang keluarga aman damai, diliputi arogansi. Pilih yang mana, pastinya abege butuh teman baik/keluarga yang selalu mendukungnya.

Alur dan Ending

Bisikan-bisikan masa lalu yang diselipkan di masa kini, seraya membayangkan Parseltongue yang menggelitik telinga Harry kecil 🙂

Detail pertikaian dalam keluarga Simon, Krystal, Mollison; melayangkan ingatan pada duel antara Death Eater dengan Laskar Dumbledore, yang seringkali saya lewatkan, karena terlalu rumit mengimajinasikannya 😆. Thanks to the movie maker, yang sudah banyak membantu pengejawantahannya

Sulit, sulit melepaskan gambaran Rowling di berbuku-buku kisah Harry Potter, ke dalam sebuah buku dewasa yang ‘hanya’ diwakili 600an halaman ini. Mungkin saya juga harus membandingkan dengan alter egonya sebagai Robert Galbraith di buku novel kriminal The Cuckoo’s Calling. Tapi kayaknya skip dulu deh, beraaat…

Saya lebih memilih menikmati konfliknya fanfic daripada konflik realitas, terlalu mengoyak emosi . Apalagi yang berkisar soal seks bebas di usia dini, pemerkosaan, pedofil, pelecehan fisik dan verbal, berasa ikut merinding. Namun Rowling tidak mendeskripsikan emosi detailnya, dia membuat pembaca mumet dengan rangkaian perkara yang complicated.

Endingnya tak bisa ditebak semuanya, karena banyak masalah butuh banyak jalan keluar. Penyelesaian via jalan tol, mediasi, atau berlalu begitu saja, semua ada di sini. Pesan moralnya sebenarnya banyak sekali, tersirat.

Ini bacaan orang dewasa ya, anak-anak belum pantas melahapnya ☺

Selamat berpusing membaca…

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s