Pilihan Pendidikan Praktis

Judul buku : Apa Itu Homeschooling: 35 Gagasan Pendidikan Berbasis Keluarga
Penulis : Sumardiono
Editor : Gita Romadona
Proofreader : Nurul Hikmah
Penata letak : Wahyu Suwarni
Ilustrator : Matheus Ovan
Penerbit : Panda Media, 2014
Tebal : 178 hal

Buku ini ditulis oleh Sumardiono, seorang praktisi homeschooling, yang sebelumnya telah menulis Homeschooling Lompatan Cara Belajar, Warna Warni homeschooling. Pemilik dari situs rumahinspirasi.com yang sering menjadi rujukan dari Ayah Edy bagi keluarga yang memiliki pertanyaan dan lain-lain mengenai homeschooling.

Dibahas ringan tentang bagaimana memulai homeschool dari titik nol, 

bahwa setiap orang tua memiliki kesempatan untuk menentukan dan mengejar mimpi terbaik anak-anak dengan syarat tidak melanggar ajaran agama dan tidak melanggar hukum yang berlaku. Kita adalah tuan untuk nasib kita sendiri (2), supaya anak bisa melihat dengan cara berbeda (4), yaitu merefleksikan esensi pendidikan yang paling tepat untuk anak kita sendiri (5), karena orang tua adalah guru pertama dan utama (6). Bukankah kita bisa lihat bahwa banyak bintang di langit (7), karena itu tantangan orang tua adalah untuk mengostumisasi pendidikan (8), antara lain berupa flesksibilitas biaya pendidikan (9). Namun menjadi perintis itu tak mudah (10), karena selalu ada pertanyaan paling utama tentang bagaimana sosialisasi anak homeschooling (11)…hingga bab 35 tentang portofolio karya Tiap bab merupakan kesinambungan dari bab sebelumnya dengan penjelasan ringan, singkat, namun padat materi.

Bab yang berkesinambungan ini mempermudah bagi orang tua yang berminat mengambil jalur homeschool bagi anak-anaknya. Homeschool merupakan pilihan yang menjawab dengan semakin beringas dan tidak manusiawinya system pendidikan, yang lebih mengedepankan akademi semata, namun abai pada kemampuan dan suara hati masing-masing anak. Diperparah dengan output anak yang, mengutip dari istilah Elly Risman, BLAST (Bored, Lonely, Angry/Afraid/Anxious, Stressed, dan Tired) Bosan, kesepian, marah/takut/cemas, tertekan, dan kelelahan Maraknya pelecehan di dalam dan di luar lingkungan sekolah adalah satu output dari sistem pendidikan yang membebani otak anak. alih-alih membuat pandai, pendidikan yang terlalu menekan, malah akan membuat anak lelah dan mudah melarikan diri untuk bersenang-senang, yang tak semuanya berkenan disortir oleh orang tuanya. Kesenangan itu kemudian difasilitasi oleh gadget dengan pulsa dan akses tanpa batas, sebagai wujud kompensasi waktu dan perhatian orang tua. Bukan berarti gadget selalu berakibat buruk, namun pemanfaatnnya untuk anak bawah umur harus benar-benar parental advisory and guide.

Buku ini memberikan jawaban singkat tentang apa dan bagaimana homeschool, termasuk tantangan dalam menghadapinya mendatang. Seperti halnya perkembangan anak, maka homeschool pun butuh proses yang berbeda dengan sekolah biasa, di mana jenjang tertentu harus bisa kemampuan yang sesuai dengan kurikulum. Dengan homeschool, kita bisa menyesuaikan dengan irama belajar anak, tanpa harus terbaku pada standar baku kurikulum yang belum tentu sesuai dengan kemampuan anak.
Homeschool juga bisa menjadi rujukan bagi anak yang berkesibukan tinggi, mendapatkan trauma di sekolah umum, atau memang tak memiliki kesesuaian dengan system pendidikan umum.

Masalah hukum sudah dibahas, karena homeschool juga bertemu dengan praktisi homeschool lainnya. Sebagai rujukan pembanding, bisa melihat ulasan Ayah Edy atau Kak Seto yang memiliki sekolah homeschool, anaknya bahkan memilih sendiri untuk homeschool sejak sekolah dasar karena lebih menyukai menari daripada belajar. Putri kedua kak Seto inilah yang menjadi salah satu duta tari Indonesia.
Ada banyak alasan mengapa orang tua memilih jalur pendidikan.Apapun alasan yang dipilih, sebagai pelaksana, orang tua memiliki pekerjaan rumah berupa rajin membaca literatur tentang homeschool agar terus terupdate, memperbanyak interaksi dengan praktisi homeschool lainnya, dan juga menentukan arah dan rencana untuk keluarga anda sendiri (hal 178).

–>

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s