Kelas Rumah

Judul Buku: Homeschooling Rumahku Kelasku, Duniaku Sekolahku
Pengantar: Prof. Dr. Arief Rahman, MPd
Editor: Chris Verdiansyah
Penerbit: Kompas-Gramedia, Juli 2007
Tebal: 162 hal

Buku ini merupakan kumpulan tulisan mengenai pendidikan rumahan dan pendidikan alternative, yang pernah dimuat di Harian Kompas. Dibuka dengan pengantar yang disampaikan oleh Arief Rahman, yang mencoba mengemukakan mengenai homeschool yang seringkali dipandang sebagai les privat.

Artikel awal sempat membuai para pembaca bahwa homeschool adalah sebuah pilihan yang harus diambil di tengah carut marut pendidikan dan bobroknya system pemerintahan yang masih sering diributkan dengan pembinaan akhlak yang tak terkendali. Korupsi di segala tingkat, mulai dari yang paling rendah, seperti pungli dan kecurangan dalam UNAS, hingga tingkat nasional yang baru saja mendera ketua MK, sebagai sebuah lembaga yang seharusnya mengayomi pengejawantahan hukum di mata masyarakat. Bahkan dicontohkan, para tokoh seperti Buya Hamka, KH Agus Salim, dan Ki Hajar Dewantara adalah tokoh yang sekolah dengan system sekolah rumah (hal 19).

Beberapa tulisan memberikan contoh mengenai pendidikan homeschool dalam banyak skala, mulai dari skala rendah hingga tinggi. Maksudnya adalah, bahwa pendidikan merupakan hak yang harus diterima oleh semua orang, tak perlu dia kaya atau miskin. Ibu Yayah, dengan lima orang anaknya, melaksanakan homeschool di rumah mungilnya yang masuk di gang di Pasar Minggu, Jakarta. “….. terkadang saya membawa anak-anak ke orang-orang dengan keahlian tertrentu agar mereka bisa belajar langsung dari sumbernya. Intinya, segala yang ada di lingkungan dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran…” (hal 16)

Homeschool tak melulu soal keterbatasan biaya, bisa juga karena visi dan misi orang tua dalam perencanaan matang ke depannya. Seperti yang dilakukan beberapa warga keturunan yang pernah mengenyam pendidikan di AS. Awalnya ada yang berniat utuk menyekolahkan anak di luar negeri, namun dengan pertimbangan nasionalisme, maka pilihan homeschool dengan kurikulum berbasis standar AS dijalankan. Jam 8-12 waktunya belajar, selanjutnya bebas, bisa bermain, les, dan sebagainya yang berkaitan dengan sosialisasi.

Sekolah rumah ini merupakan sebuah bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem pendidikan yang dianggap menyamaratakan kemampuan anak dengan sebuah standar bernama UNAS. Padahal setiap anak itu unik dan harus diterima keunikannya seperti sebuah sekolah di Australia yang memberikan piagam sesuai dengan bidang kemampuan anak.

Tak hanya homeschool, para agen yang peduli dengan pendidikan juga mengayomi remaja putus sekolah dan anak jalanan yang tak memiliki biaya untuk melanjutkan ke sekolah formal dengan mendirikan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Tak memiliki uang bukanlah satu-satunya alasan untuk menjadi tidak terdidik, sejatinya alam dan lingkungan menyediakan tempat seluas-luasnya untuk menimba ilmu. Jenjang pendidikan merupakan birokrasi yang diatur pemeritah, yang bahkan semakin amburadul dengan kurikulum dan buku yang terus berganti, sementara relevansi dan aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat, sangat minim. Sayangnya, masyarakat dibesarkan dengan dogma bahwa gelar merupakan pakaian kebesaran dan kepandaian. Pendidikan persekolahan dianggap sebagai jalan untuk lepas dari lubang kemiskinan dan kebodohan. Tetapi pada kenyataannya banyak yang tidak terwujud. Semuanya tetap butuh kerja keras. Everet Reimer, seorang psikolog pendidikan mengatakan school is dead. (hal 145)

Kak Seto, sebagai salah satu penggagas homeschool, mengatakan perlunya sekolah rumah mendapatkan pengakuan dan sumbangan dana dari pemerintah. Bagaimanapun, pasti akan ada pertentangan dan ketidak puasan. Seperti yang disampaikan mantan menteri pendidikan, Daoed Yoesoef, yang memberikan jalan tengah dan sedikit condong kepada sekolah umum sebagai sarana anak mengembangkan diri dalam kehidupan. Tak akan ada sekolah yang benar-benar sesuai dengan harapan orang tua dan kemampuan anak, pandai-pandailah orang tua mencari celah. Sekolah disebutkan sebagai perwakilan kehidupan sebenarnya, dengan adanya anak-anak biang onar yang suka menganggu, hidup bersama orang baru dan terpisah dari orang tua. Beliau berdalih bahwa ini bukan berarti tidak menyetujui apa itu homeschooling, namun masyarakat juga berhak menuntut tentang keseriusan pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Orang tua diharapkan berperan secara sadar sebagai guru kedua di rumah, mengakomodasi kekurangan dari sekolah. Beliau menganggap bahwa jenis pendidikan rumah itu merusak pertumbuhan anak untuk menjadi manusia yang bermasyarakat (hal 158). Sejalan dengan pendapat Daoed bahwa orang tua sebagai pendidik yang kedua, Dalam sisi ekstrim lagi, Maria FK Namang menganggap bahwa homeschooling, “memenjarakan” anak dalam lingkungan terbatas.

Pendidikan yang diusung Dik Doank dengan mendekatkan pada unsur alam. Anak-anak akan lebih bahagia karena mereka bisa bermain dengan lumpur bersama kerbau, menggambar. Bahkan penyanyi dan pencipta lagu ini mewajibkan semua murid untuk menggambar, dengan menyatakan bahwa bangsa yang tanpa kebiasaan menggmbar cenderung gagal menjadi bangsa pencipta, paling tinggi sebagai bangsa penyontek (hal 65).

Sekolah, dalam benak masyarakat Indonesia adalah pengkondisian jenjang pendidikan SD, SLTP, SMU, hingga kuliah yang kemudian “nguli”. Pendidikan sekolah kejuruan lebih sering diidentikkan dengan mereka yang memiliki dana terbatas dalam pendidikan, sehingga harus segera bekerja setelah lulus sekolah. Sebuah pembesaran jargon gelar dan identitas tanpa relevasi yang pas dalam hidup itu sendiri. Realita bahwa sarjana menganggur dan banyak boss yang bahkan tak pergi kuliah atau hanya lulusan SD, menjadi semacam ledakan retoris akan redefinisi ulang pendidikan yang telah tertanam dalam benak masyarakat, sebagai SEKOLAH.

Saya tak punya kesempatan untuk sekolah di universitas. Saya mengembara dan bekerja dan itulah sekolah saya- Ho Chi Minh, 1959. (hal 98)

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s