Perempuan Kembang Jepun: Wanita-wanita Yang Malang Dalam Cinta

Judul buku : Perempuan Kembang Jepun
Penulis : Lan Fang
Desain kaver : Eduard Iwan Mangopang
Ilustrasi dalam : Bambang AW
Foto kaver : Peter Wang
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal : 288 hal
ISBN-10 : 979-22-2404-1
ISBN-13 : 978-979-22-2404-7

Ia tidak pernah lagi mengucapkan kata ‘ibu’ sejak ayahnya mengajaknya pergi meninggalkan perempuan yang selama ini dipanggilnya ‘ibu’,karena perempuan itu selalu membuat matanya berembun dan bergerimis bila ingat bahwa biduk hidupnya pecah dan karam terantuk parut di seluruh wajahnya dan bilur di seluruh hatinya. (hal. 21)

“Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kamar sempit mereka, naluriku sudah mengatakan bahwa perempuan yang untuk selanjutnya kupanggil ‘ibu’ itu tidak menyukaiku. Matanya melotot lebar, mulutnya mengomel sepanjang hari, dan wajahnya selalu membiaskan kebencian dan rasa permusuhan. Bukan cuma sumpah serapah, rasa lapar, pantat piring seng di mulutku, pukulan atau cubitan yang kuterima selama bertahun-tahun, tapi juga penghinaan!…”

“Ia selalu menyebutku ‘lont* kecil’!” seruku histeris bagaikan aum macan terluka. (hal. 244)

“Kau memang lont* kecil! Kau memang anak sund*l Jepang! Tidak cukup lont* itu merebut suamiku, sekarang kau selalu menjadi biang keributan di sini! Setelah besar, kau tidak akan berbeda jauh dengan ibumu. Lont*! Sund*l! Bal*n!” (hal. 246)

Namanya Lestari, seorang wanita berusia setengah abad lebih. Lahir dari rahim seorang wanita Jepang bernama Matsumi. Ayahnya adalah pria pribumi bernama Sujono. Matsumi meninggalkan Indonesia saat Jepang kalah dari Sekutu, meninggalkan Lestari yang masih kecil dan juga Sujono yang (saat itu) entah di mana rimbanya.

Lestari dipelihara oleh seorang pengurus klentheng yang baik, tanpa sengaja ditemukan oleh Sujono. Gadis kecil itu diajak pulang ke rumah Sulis, istri sahnya Sujono. Di rumah sempit itulah, petakanya dimulai. Lestari diperlakukan bak pembantu, disiksa secara fisik dan mental, oleh ibu tirinya. Puncak kekerasan adalah ketika Lestari digagahi oleh kakak tirinya, yang membuat si ayah murka dan mengajaknya pergi untuk selamanya, dari rumah petak itu.

Lestari dan Sujono pergi ke Kapasan, menempati rumah Matsumi yang lama kosong. Untuk mengisi kesepian, Lestari memutuskan untuk menerima dan merawat bayi-bayi terlantar, yang ditinggalkan atau tak diakui orang tuanya.

Maya adalah satu bayi terlantar, yang dirawatnya hingga dewasa, hingga tiba saat dia meminta ijin ibu asuhnya untuk menikah dengan pria pujaannya, Higashi. Pria ini adalah anak angkat dari Matsumi.

Kisah menarik berjudul Perempuan Kembang Jepun ini ditulis oleh almarhumah Lan Fang, penulis kelahiran Banjarmasin yang bermukim di Surabaya. Novel bersetting masa penjajahan Jepang sebagai flashback, dan masa kini di sekitar tahun 2003. Kunci utama memahami isinya adalah soal se*s dan uang, cinta dan kebersamaan.

Bagaimana rasanya dinikahi, tapi tak dicintai, seperti nasib Sulis. Bagaimana rasanya dicintai setiap hari, tapi tak dinafkahi dan kadang dikata-katai atas nama masa lalu, seperti nasib Matsumi. Dua wanita yang bermuara pada Sujono, seorang kuli angkut yang banyak mengandalkan tenaga dan keperkasaannya, minim empati dan simpati.

Namun siapa nyana, pria yang bikin geregetan ini, bisa menjadi pahlawan bagi anak perempuannya. Ayah yang menghidupi Lestari, memberinya kehangatan dan cinta kasih di antara serapah dan perilaku keji si ibu tiri. Sujono bekerja begitu keras siang malam tak kenal lelah demi Lestari. Ia menuntaskan penat hidup melalui rokok, yang kemudian merenggut nyawanya perlahan. Sujono meninggal dalam buncah kebanggaan seorang Lestari.

Ini novel dewasa, penuh dengan adegan dewasa, dan perlu dipahami dengan dewasa. Penulis menggambarkannya dengan detail (alias vulgar), bagus, tapi membuat sesak di dada. ‘Kenikmatan’ dalam kemiskinan, bukan ramuan yang memikat untuk ditelan, namun tak ada lagi pilihan.

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s