Layang-Layang Biru: Berdamailah 

​Judul buku : Layang-layang Biru

Penulis : Meiliana K. Tansri

Desain dan ilustrasi sampul : Eduard Iwan Mangopang

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006

Tebal : 224 hal

“Aku ingin menjalani hidupku dengan bahagia, Wan,” kataku. “Semua yang pernah ada di antara kita biarlah selesai sampai di sini. Mulai sekarang lebih baik kita berusaha hidup berdampingan dengan rukun demi Laura.” (hal. 110)

“Kau tahu tidak, Setiawan masih mencintaimu. Dia tidak pernah berhenti memikirkanmu, bahkan dalam mimpinya. Mungkin sebelum tanah kuburanku kering dia akan memintamu untuk kawin dengannya supaya Laura tetap memiliki ibu. Tetapi kau harus ingat, aku tidak akan pernah merestuimu. Jika kau berani menikah dengannya, setelah mati aku akan menjadi hantu penasaran untuk mengganggu hidupmu supaya kau tidak pernah merasa tenang!…” (hal. 133)

Elizabeth, seorang lajang berusia 38, bekerja di Wall Street. Ia pulang ke Indonesia dalam rangka menjenguk Andriana, adiknya yang sedang dirawat karena kanker rahim. Elizabeth sebenarnya tak ingin pulang, tapi…

Beberapa tahun lampau, sebulan setelah Elizabeth bertunangan dengan Setiawan, Andriana hamil. Setiawan mengakui perbuatannya. Sementara keluarganya menyiapkan pernikahan dadakan mantan calon suami dengan adiknya, Elsa mempersiapkan pelarian ke New York.

Andriana masih dalam kondisi tak sadar ketika kakaknya datang. Rikuh menghabiskan waktu dengan adik ipar sekaligus mantan calon suami, Elsa pergi ke pantai, menikmati layang-layang berwarna biru langit yang selalu mengudara saat dia ke sana. Pemilik layang-layang ini adalah seorang pemuda yang menderita leukimia, sedang menjalani kemo hingga rambutnya gundul. Namanya Edward, usianya 19 tahun dan mereka jatuh cinta. Namun hanya sekadar perasaan, tak berjalan terlalu jauh, selain masalah usia yang terpaut jauh, juga ada penghalang utama yang tak memungkinkan.

Ceritanya sederhana, sekali duduk juga habis. Meski tak mengusung norma agama, novel ini cukup sopan dalam menyajikan konflik.

Belajarlah untuk mengampuni, memaafkan, seburuk apapun kesalahan yang pernah dibuat orang lain kepadamu, itu pesan utamanya. Memaafkan bisa melegakan orang yang dirundung rasa bersalah, meringankan beban hidupnya. Namun sebenarnya memaafkan adalah untuk kebaikan kita sendiri, melegakan diri, mengurangi penyakit hati, menghabiskan waktu untuk banyak kegiatan lain yang bermanfaat daripada memikirkan kesalahan orang yang menyakiti kita. Sementara kita sibuk memikirkan kesalahannya, belum tentu juga yang bersangkutan menyadarinya.

Cobalah, dan rasakan sejuknya.

Advertisements

Published by

daniar

My nickname is Daniar, just to make me comfortable in writing. I love reading, writing, and dreaming. Enjoy these adventurous minds :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s