Ibu Yang Handal

Judul buku : Rock ‘N Roll Mom
Penulis : Bunda Iffet dan Dharmawan S.
Penyunting : Laura Khalida
Penyelaras aksara : Alfiya, Herlina Sitorus
Pewajah sampul : Windu Tampan
Penata letak : elcreative
Penerbit : Hikmah, November 2010
Tebal : 303 hal

“Mama ingat kan perjanjian kita dulu? Saya tidak ingin ada dualisme dalam pendidikan anak-anak kita di rumah. Biarlah saya yang mencoba mencukupi apa yang kita butuhkan, sesederhana apapun itu. Tugas Mama menjaga dan mendidik anak-anak. Mama tahu, itu saya lakukan bukan karena kurang menyayangi mereka. Justru karena kasih sayang itu saya merasa harus membatasi diri untuk terlibat lebih dalam membina dan mengembangkan jiwa anak-anak kita.” (hal. 65)

“Tahukah Mama mengapa saya percaya dan menyerahkan pendidikan anak-anak kita sepenuhnya?” Dia bertanya, retoris. “Karena saya percaya Mama sepenuhnya pula. Bukan hanya karena Mama tamatan guru sekolah taman kanak-kanak yang begitu mencintai anak-anak. Saya percaya penuh karena saya yakin Mama bisa.” (hal. 66)

“Tak ada hak kita untuk menolak apa yang tiba-tiba berubah dalam kehidupan kita, Ma. Tugas kita hanyalah menata perubahan yang terjadi itu hingga kita bisa terima sesuai toleransi kita.” (hal. 67)

Kalimat-kalimat bijak itu adalah cuplikan pembicaraan antara Bunda Iffet dengan suaminya, Sidharta, saat beliau mengadukan bahwa anak-anak asuhannya, mencandu narkoba.

Bunda Iffet adalah sosok karismatik yang lekat dengan sepak terjang band Slank di blantika musik Indonesia. Ibu empat anak ini adalah ibu kandung dari Bim Bim dan budhe dari Kaka.

Sejak membentuk formasi rock band di tahun 1983, Slank memiliki ciri khas penampilan urakan ala hippies tahun 1960-70an, tapi membawa misi anti kemapanan dan anti hipokrisi. Penampilan mereka masih segar, belum terbawa pengaruh narkoba, yang dikenal dan dikonsumsi hampir semua awaknya di tahun 1994. Narkoba tak hanya menghisap kondisi fisik dan psikis mereka, tapi juga menuai konflik satu sama lain.

Konflik dimulai dengan dipecatnya Indra, Pay, dan Bongky, di tahun 1997. Slank kemudian berganti-ganti formasi, hingga saat ini konsisten bersama Ivan, Abdee, dan Ridho, tanpa sentuhan keyboard lagi. Abdee dan Ridho yang ‘bersih’, harus bertahan dengan tiga lainnya yang (saat itu) masih dalam kendali putauw dan sabu, sekaligus menemani bunda Iffet yang berjuang keras menyembuhkannya.

Sebuah kerja berat. Sebagai orang tua sekaligus manajer, Bunda Iffet seperti sebuah perisai penjamin akan kredibilitas Slank di mata publik. Konser bisa bubar atau batal kapan saja, saat mereka masih menyandu, mereka juga tak peduli. Betapa susahnya jadi pecandu, emosi labil dan tak kenal kehidupan normal. Jika tak manggung, mereka tak doyan makan, lemas, hingga sakau.

Bunda berjuang dengan berbagai cara. Memperingatkan seperlunya yang biasanya berakhir dengan bentakan, hingga mengiming-iming nikmatnya jalan-jalan saat konser ke penjuru Indonesia atau ke luar negeri. Selama tur, para pecandu hanya bisa berbaring lemas setelah mengeluarkan energi untuk bermain musik, tak sanggup lagi bersenang-senang.

Keinginan sembuh dimulai tahun 1999, ketika Bim Bim berniat menikahi Reni, seorang Slankers yang baru berusia 17 tahun. Kesembuhan dari candu adalah syarat mutlak yang diajukan orang tua Reni, saat melepas anak semata wayangnya itu. Mereka bertiga (Bim Bim, Kaka, Ivan) sebenarnya pernah mencoba menjalani rehabilitasi secara medis. Namun karena kurang pengawasan dan penjadwalan, program itu gagal. Hingga suatu hari, di tahun 2000, datanglah Pay berkunjung dalam kondisi gemuk dan sehat. Pay dulunya juga pecandu. Maksud kedatangannya, selain mengunjungi Bunda Iffet, juga berbagi cara soal proses kesembuhannya. Dia berobat ke pak Teguh Wijaya, menggunakan ramuan China. Berangkatlah mereka ke pak Teguh. Per orang per paket dikenakan biaya 20 juta, jadi total 60 juta. Bandingkan dengan biaya candu, kurang lebih sejuta sehari per orang, dalam kurun waktu 6 tahunan. Wow…

Proses penyembuhan benar-benar menegangkan dan tidak mudah. Bahkan ibunda Ivan angkat tangan, tak sanggup mengatasi amukan anaknya yang sudah menghancurkan barang-barang elektronik di rumah. Otomatis, Bunda Iffet mengasuh tiga orang pecandu. Tak mau gagal lagi, beliau menghubungi beberapa polisi agar berjaga di sekitar Gang Potlot, sekiranya ada bandar yang menyelinap. Juga meminta pemakluman para tetangga jika ada teriakan atau keributan dari rumah mereka, saat proses penyembuhan berjalan. Sempat ada insiden bandar menyelinap, Bim Bim berusaha melarikan diri, namun semuanya berhasil ditangani aparat yang berjaga.

“Teriakan-teriakan kesakitan mereka membuatku bergidik ngeri. Ya Tuhan naudzubillahi min dzalik. Jangan lagi ada keluarga kami, bahkan anggota keluarga siapapun yang mengalami hal-hal mengerikan seperti itu.” (hal. 162)

Masa kritis di hari ketiga terlewati. Di hari keempat, mereka minta makanan kesukaan mereka. Hari-hari selanjutnya mereka jalan-jalan, anehnya, mereka cepat lelah. Proses penyembuhan, sesuai dengan dosisnya, berlangsung selama 10 hari. Selanjutnya masa pemulihan selama kurang lebih tiga bulan, dalam pantauan sang Bunda. Tiga bulan sekali, beliau juga mengharuskan tes urine.

Rumus yang hampir sama dipakai pada semua jenis penyakit, selain obat yang tepat tentunya, adalah perhatian dan kasih sayang. Banyak pecandu yang sudah rehab, kembali ke dunia kelam lagi, karena merasa dibuang dari keluarga, tak ada tindak lanjut atau proses pemulihan dari lingkungan (keluarga), yang berperan sama pentingnya dengan penyembuhan.

Alm. Cak Nur dan Dahlan Iskan sebagai contoh. Keduanya sama-sama menjalani operasi ganti hati. Operasi Cak Nur dianggap gagal, sebagian mengaitkan dengan ‘dosanya’. Namun Dahlan Iskan membantah, kegagalan itu dikarenakan proses pemulihan yang tak dijalani oleh mendiang tokoh plural tersebut. Meski sudah dikatakan sembuh, seharusnya tidak boleh langsung beraktivitas, semacam adaptasi antara organ tubuh yang baru masuk dengan organ tubuh lama.

Begitu juga dengan para mantan pecandu narkoba dan penderita gangguan masalah kejiwaan. Setelah sembuh, mereka tetap membutuhkan dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekat, supaya tak kembali ke dunia lama. Mereka seperti manusia baru, dengan mental dan semangat baru, yang masih butuh dipoles dalam kurun waktu tertentu, supaya kembali mandiri dan bermanfaat seperti sedia kala.

Psikolog Dono Baswardono pernah menulis dalam statusnya, menyarankan agar rumah sakit jiwa mulai ditiadakan, demi mengembalikan peran keluarga, dalam usaha memulihkan kesehatan masing-masing anggotanya melalui perhatian, dukungan, dan kasih sayang. Semisal seorang penyandang autis, akan lebih mudah melanjutkan hidup ketika semua anggota keluarganya ikut ‘menyandang autis’. Dalam artian, ikut diet, menemani dan mendukung terapi, menerima dia apa adanya.

Bunda Iffet, selain taat beribadah, juga karena dukungan suami yang tak pernah menyalahkan, selalu mendukung, dibutuhkan seperlunya namun bukan berarti angkat tangan. Bahkan pak Sidharta juga berani menyetujui keputusan Bim Bim untuk berhenti kuliah demi menekuni musik.

“Dia anak lelaki, biarkan dia menjalankan keputusannya dengan segala resiko yang ada.” (hal. 38)

Beliau menyetujui dengan syarat, bahwa Bim Bim harus tanggungjawab terhadap keputusannya.

Selain proses pemulihan, Bunda Iffet juga mencanangkan proses penguatan secara spiritual. Beliau mengusulkan pemotongan honor 2.5% sebelum dibagikan. Uang itu kemudian diwujudkan dalam bentuk bantuan bagi Slanker pecandu, terutama yang berasal dari kalangan tak mampu.

“Bunda Iffet adalah personel keenam Slank. Sedemikian beruntungnya mereka diberkahi seorang ibu yang sekaligus ‘nyawa’ dalam berkarya,” Armand Maulana.

Buku ini memberi pelajaran yang sangat lengkap. Keluarga yang harmonis bukan berarti yang tak memiliki masalah. Masalah yang dihadapi bisa jadi lebih berat, karena itu menguji kekuatan ikatan dan kekokohan nilai-nilai yang mereka anut sebagai keluarga. Selalu ada harapan menjadi lebih baik, selama yang salah diberikan kesempatan, arah, dan pendampingan yang sesuai. Inshaallah…
–>

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s