Heroes: Pahlawan Banyak Bidang 

Judul Buku : Heroes

Penulis : Tim Kick Andy dan Arief Koes H.

Penyunting : Ikhdah Henny 

Perancang sampul : Regolmedia

Pemeriksa aksara : Nunung, Chalida N.A.

Penata aksara : Beni

Penerbit : Bentang, Yogyakarta 2011

Tebal : 206 hal

“Karena kondisi sang ayah, putri Sidik sempat diejek oleh teman-temannya. Kalau sudah begitu, dengan sabar Sidik memberi pengertian. “Enggak usah marah, kita enggak ngemis, kita punya usaha, enggak merepotkan orang lain,” ujar Sidik pada putrinya. Sang putri  justru bisa membantah dengan caranya sendiri. Kepada kawan yang mengolok dirinya, putri Sidik menyahut. “Coba kamu yang punya ayah seperti ayahku, paling juga kamu sia-siakan,” tiru Sidik sambil tersenyum. (hal. 35)

Sidik, pria kelahiran 1962 yang terlahir tanpa kaki, menikah dengan seorang wanita penderita polio, namun memiliki 3 putri normal.

Sidik adalah pengusaha krupuk singkong cap Gurame, yang pangsa pasarnya melintasi berbagai pulau di Indonesia.

“Rudi Guilani dari Bali.” (hal.64)
Sebuah julukan yang diberikan kepada Haji Bambang, warga Bali yang membantu evakuasi korban ledakan Bom Bali di Paddy’s Bar dan Sari Club.

“Integritas dan independensi itu pula yang dibangun MER-C. Alhasil, MER-C bebas dari intervensi dan ketergantungan dana. Setiap pihak dan individu yang memberi sumbangan akan diajak berdialog. MER-C menggali informasi motivasi sumbangan itu. Donatur tidak bisa mendomplengkan kepentingan pada sumbangannya ke MER-C.” (hal.103)
Dr. Joserizal Jurnalis, dokter bedah kelahiran Padang yang merintis dan menjadi relawan tangguh MER-C, sebuah lembaga sosial yang aktif dalam misi kemanusiaan lintas negara.

“Jangan sampai ketika dipanggil Yang Mahakuasa, saya meninggalkan perkara pada anak-cucu dengan berebutan air.” (hal.121)
Saekan, menghijaukan dan menciptakan mata air di Gunung Wilis, kabupaten Madiun. Saekan mengusahakannya sejak tahun 1970an, tanpa bantuan dan pembinaan dari aparat.

“Ini juga yang membedakan dan menjadi karakter JFC. Berbeda dengan karnaval dunia lain, seperti di Rio, Brazil. Meskipun megah, mahal, dan kolosal, kostum mereka produk masal, sama semua, dan terbuka. Sedangkan setiap peserta JFC merancang dan memakai sendiri, busananya juga tertutup,” papar Fariz.
Dynand Fariz, penggagas JFC (Jember Fashion Carnival).

“ABK bukan produk Tuhan yang gagal, karena Tuhan tidak menciptakan produk gagal. Tapi, mereka menjadi inspirasi, termasuk bagi orang-orang yang menganggap dirinya sempurna,” tuturnya dengan yakin. (hal.180)
Ciptono, Kepala Sekolah SLB Negeri Semarang, yang berhasil membina para ABK menemukan kemampuan optimalnya dan meraih prestasi.

–>

Advertisements

Published by

daniar

My nickname is Daniar, just to make me comfortable in writing. I love reading, writing, and dreaming. Enjoy these adventurous minds :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s