Athirah: Tabik

Judul buku: Athirah
Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Noura Books, 2013
Tebal: 324 halaman

Novel ini sudah menjadi incaran saya sejak pertama terbit. Penasaran dengan siapakah Emma, siapakah Athirah? Jusuf Kalla yang hampir selalu terlihat menempel dan begitu mesra dengan ibu Mufidah, mungkinkah mendua? 😯

Alberthiene Endah, yang sudah lincah menovelkan biografi tokoh-tokoh lain, menuliskan dengan begitu apik. Ada bagian kisah yang begitu runut, dipadukan dengan beberapa unggahan kisah di masa lampau. Sesekali menguras emosi dan air mata, namun sarat pesan moral akan arti sebuah kesetiaan, ketangguhan, ketekunan, penghormatan, dan juga cinta.

Tabik, Athirah. Ini pelajaran yang sangat berharga untuk semua ibu, semua istri, dengan pengalaman uniknya masing-masing.

Athirah dijodohkan dengan Kalla di usia 15 tahun, hanya terpaut dua tahun lebih muda dari suaminya. Saat hamil anak kelima, sang bapak menikah lagi. Emma, adalah ibu dalam bahasa Bugis.

Menjelang subuh sampai anak-anak berangkat sekolah, Bapak berada di rumah Andalas, rumah keluarga pertama. Lalu bekerja di perusahaannya, hingga malam pulang ke rumah istri kedua. Begitu terus sampai beberapa tahun, sampai lahir lima adik Jusuf dalam kondisi Bapak yang berbagi rumah dan perhatian. Sementara dari istri keduanya, Bapak juga memiliki lima orang anak.

Emma terguncang, menangis tiap malam dan dalam sujudnya, namun tetap tangguh dan gesit menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri yang baik. Menyiapkan sarapan, menemani anak-anak belajar, bahkan tak pernah sekalipun menuntut pertanggungjawaban atau alasan pasti dari Bapak, tentang mengapa dia harus diduakan. Emma memilih memendamnya, demi anak-anak, demi empati pada nasib ibunya, Mak Kerra, yang menjadi istri keempat dari ayahnya.

Cahaya yang sempat redup itu kembali bersinar saat Emma memulai bisnisnya sebagai pedagang kain songket, di luar bisnis dan campur tangan Bapak. Emma mulai sibuk dan mulai terbiasa dengan ritme hidupnya sebagai istri tua. Emma mulai menunjukkan bahwa apapun yang terjadi dia akan sanggup, demi anak-anak, demi rasa cinta dan hormatnya pada Bapak.

Jusuf sebagai anak lelaki tertua, merasa bertanggungjawab untuk menjaga ibunya. Jusuf berjanji akan terus menemani ibunya, bahkan sampai menikah pun dia berjanji tak akan pernah meninggalkan Emma.

Melihat jatuh bangun ibunya bertahan sebagai istri tua, Jusuf banyak belajar untuk menghargai wanita. Dia menaruh hati pada adik kelasnya, Mufidah, yang ternyata sangat tak mudah ditaklukkan. Mufidah yang juga berkenan dengan pinangan Jusuf, namun sempat ragu karena sejarah poligami di keluarganya.

Mufidah dan Jusuf akhirnya menikah. Mufidah dari keluarga sederhana, yang tertempa hidup keras, mengingat posisinya sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara. Mufidah yang begitu luwesnya, bisa dengan mudah bekerjasama memasak dan bercerita bersama Emma, juga bisa dengan begitu santai mendengarkan curhat Bapak mengenai keluarga keduanya.

Saya tak kuasa membayangkan betapa beratnya jadi Emma, yang harus menanggung beban malu dan rasa bersalah selama sekian puluh tahun Namun Emma memilih bertahan, bertahan dalam arti sebenarnya.

Islam membolehkan (mengesahkan) poligami, namun dunia sekadar mengakui kecenderungan pria untuk mendua, meniga, mengempat, dan selanjutnya, entah dalam koridor kesepakatan apa. Wanita tetap punya dua pilihan pasti. Jika sepakat, seperti kisah Emma, pahit manis harus dilakoni, karena memang surga itu terjal. 

Secara pribadi, saya tak sepakat, bahwa surga itu (hanya) berupa pemberian ijin kepada suami untuk memiliki beberapa istri. Boleh, jika sanggup berlaku adil. Tapi, samakah batasan adil bagi setiap orang? πŸ˜‰ Surga itu lebih karena kesabaran, kerelaan, dan aspek bertahan lainnya. Masalah si bapak melakukan sunnah atau dosa, yah itu hitungannya Allah.

Jika tidak sepakat dimadu, ya sudahilah. Seringkali beralasan bertahan demi anak-anak, tapi malah anak-anak trauma karena pertikaian berlanjut sepanjang usia, demi mempertahankan reputasi keluarga di muka umum. 

Dalam versi layar lebarnya, Emma diperankan oleh Cut Mini. Seperti bingar senyap film lokal lainnya, saya belum pernah merasakan ketertarikan yang sangat untuk meramaikan pemutaran perdananya πŸ˜† Drama, buatan negara manapun, lebih tepat dinikmati di layar televisi. Saja. 

Advertisements

Published by

esthy wika

Menjadi ibu, menjadi istri, menjadi aku dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s